5 Aplikasi AI untuk Memudahkan Proses Akuntansi dan Audit

5 Aplikasi AI untuk Memudahkan Proses Akuntansi dan Audit

Aplikasi AI untuk akuntansi yang layak masuk sistem keuangan harus mampu mengolah bukti transaksi, mempelajari pola akun, rekonsiliasi data, atau menunjukkan risiko beserta sumbernya.

Berdasarkan kriteria tersebut, 5 pilihan yang paling kuat untuk kebutuhan berbeda yaitu Vic.ai, Docyt, DataSnipper, MindBridge, dan Trullion.

Kelima aplikasi itu tidak saling menggantikan. Vic.ai menangani accounts payable, Docyt membantu proses pembukuan.

DataSnipper menguji bukti di Excel, MindBridge melakukan scanning anomali transaksi, sedangkan Trullion menghubungkan kontrak dan laporan dengan jejak audit (audit trails).

Karena itu, pemilik bisnis, tim finance, dan auditor perlu memilih aplikasi yang banyak memakan waktu, sehingga penggunaan aplikasi AI lebih efisien.

crm banner 3

Untuk mengetahui mana yang sesuai dengan kebutuhan Anda, kita akan membahasnya lebih detail dengan membandingkan kemampuan, keterbatasan, pengguna ideal, dan cara mengujinya.

Anda tetap perlu memeriksa dukungan PSAK, perpajakan DJP, mata uang, lokasi penyimpanan data, serta integrasi bank.

Jika Anda memang membutuhkan aplikasi yang benar-benar pure memberikan solusi akuntansi, Anda bisa menggunakan software akuntansi Kledo.

Apa Itu Aplikasi AI untuk Akuntansi dan Audit?

Aplikasi akuntansi biasa menjalankan aturan yang sudah tim tentukan, misalnya menjumlahkan jurnal atau membuat laporan dari buku besar.

AI menambah kemampuan untuk membaca invoice yang formatnya berubah, memprediksi kode akun, mencocokkan transaksi, menilai pola tak lazim, dan mengekstrak klausul kontrak.

Dalam audit, nilai AI tidak berhenti pada kecepatan. Auditor perlu melihat asal angka-angka hasil audit, aturan yang bekerja, pengecualian, dan riwayat persetujuan.

Tool yang memberi jawaban tanpa tautan ke bukti akan menyulitkan reviewer saat menguji akurasi, kelengkapan, atau cut off.

AICPA dan CIMA menyurvei 1.446 pemimpin serta manajer finance dan accounting pada 2025.

Sebanyak 88% responden menilai AI akan menjadi tren teknologi paling berpengaruh pada perubahan dalam 12 sampai 24 bulan.

Apa Itu Aplikasi AI untuk Akuntansi dan Audit

Hanya 8% yang merasa organisasinya sangat siap. Kesenjangan itu menunjukkan bahwa membeli lisensi saja belum cukup.

“The advance of AI tools in the last 2 years is enabling a paradigm shift in how finance teams operate.”

– Andrew Harding, Chief Executive CIMA, melalui AICPA & CIMA, 2025

Baca Juga: 5 Aplikasi AI Terbaik Dan Populer untuk Pelaku Bisnis UKM

Perbandingan 5 Penyedia Aplikasi AI untuk Akuntansi

Agar lebih mudah menjelaskannya, CRM.ID menggunakan tabel perbandingan berikut.

AplikasiTask/Berguna untukPengguna paling cocokCatatan sebelum memilih
Vic.aiInvoice dan accounts payableTim AP dengan jumlah banyakBukan sistem buku besar lengkap
DocytPembukuan, rekonsiliasi, month end closePelaku UKM, bisnis dengan banyak cabang, firma akuntansiPeriksa support untuk Bahasa Indonesia
DataSnipperPengujian bukti dan dokumentasi audit di ExcelAuditor eksternal atau internalMembutuhkan workflow audit yang matang
MindBridgeAnalisis risiko dan anomali transaksiInternal audit, finance, dan assuranceHasil risk score tetap perlu investigasi
TrullionMeringkas isi kontrak, lease accounting, dan auditPerusahaan dengan kontrak kompleks dan firma auditHarga mengikuti kebutuhan perusahaan pengguna

1. Vic.ai untuk Otomatisasi Accounts Payable Berbasis AI

Vic.ai fokus pada siklus accounts payable. AI-nya bisa ekstraksi data invoice, memprediksi coding, menjalankan pencocokan purchase order, mengatur alur persetujuan, lalu menyinkronkan hasil ke ERP.

Platform ini mendukung integrasi dengan NetSuite, SAP, Workday, Sage, dan beberapa ERP lain.

Contoh penerapannya pada distributor yang menerima 1.500 invoice dari pelanggan per bulan. Tim AP dapat meminta Vic.ai membaca data pelanggan, tanggal, nilai, akun GL, cost center, dan PO. Staf hanya menangani peninjauan invoice hasil pekerjaan AI.

Pada halaman resminya, Vic.ai mengklaim pemrosesan invoice sampai 80% lebih cepat.

Perlakukan data ini hanya sebagai baseline uji coba, bukan sebuah jaminan hasil perusahaan Anda.

Vic.ai cocok ketika antrian invoice dan approval memperlambat tutup buku. Suatu bisnis dengan puluhan invoice per bulan mungkin belum memperoleh ROI yang sepadan.

Platform ini juga tidak menggantikan semua fungsi general ledger, rekonsiliasi, pelaporan, atau audit.

2. Docyt, sebagai Software Akuntansi Berbasis AI untuk Pembukuan

Docyt menggabungkan kategorisasi transaksi, rekonsiliasi bank dan kartu, pengelolaan pengeluaran, bill pay, dan laporan keuangan secara real time.

Sistem mempelajari chart of accounts dan koreksi pengguna agar proses berikutnya semakin sesuai dengan kebijakan akun perusahaan.

Skenarionya cocok untuk pemilik restoran dengan banyak cabang yang harus mencocokkan dengan aplikasi POS, setoran merchant, rekening bank, dan biaya setiap cabang.

Docyt bisa menarik data, melakukan pencocokan, lalu menampilkan pengecualian untuk review. Tim finance pun menghitung selisih pendapatan tanpa menunggu akhir bulan.

Mereka mencantumkan paket self service mulai US$99 per entitas per bulan dan uji coba 7 hari pada saat artikel ini ditulis.

Harga serta paket bisa saja berubah, meskipun opsi ini paling dekat dengan kebutuhan UKM, calon pengguna Indonesia perlu meminta contoh output untuk PSAK, perlakuan PPN, kurs, dan alur pajak sebelum migrasi.

Perbandingan 5 Penyedia Aplikasi AI untuk Akuntansi

Baca Juga: Apa Itu Prompt AI & Manfaatnya untuk Pelaku Bisnis UKM?

3. DataSnipper, sebagai Aplikasi Audit Berbasis AI di Excel

DataSnipper bekerja langsung di lingkungan Excel yang sudah akrab untuk auditor. Tool ini mengekstrak beberapa variabel seperti angka, tanggal, atau teks dari invoice, kontrak, bank statement, dan dokumen lain.

Sistem kemudian menghubungkan pada bagian sumber dokumen, sehingga reviewer mampu memeriksa bukti dengan cepat.

Misalnya auditor menguji 200 sampel pembelian, daripada membuka PDF satu per satu, tim Anda bisa menggunakan Document Matching untuk mencocokkan value, tanggal, nomor invoice, dan penyedia software terhadap daftar sampel.

Auditor lalu meninjau exception, memeriksa dokumen meragukan, dan menyimpulkan hasil pengujian.

Keunggulannya terletak pada traceability yang mana perusahaan tidak melatih model GenAI dengan data pelanggan dan telah memenuhi SOC 2 Type II.

Tim tetap perlu mengecek data, perjanjian pemrosesan data, kontrol akses per engagement, serta aturan retensi organisasi.

4. MindBridge, untuk AI Deteksi Anomali Transaksi

MindBridge menganalisis 100% transaksi dengan gabungan machine learning, metode statistik, dan aturan bisnis.

Platform memberi risk score serta alasan di balik tanda tersebut. Tim akan mencari jurnal pada waktu tidak lazim, nilai yang menyimpang, duplikasi, atau pola penyedia yang berubah.

Misalnya, internal audit ingin memeriksa jurnal manual pada 12 cabang. MindBridge menyaring semua populasi, mengurutkan transaksi berisiko, lalu memperlihatkan pola yang memicu skor.

Auditor mampu menghubungkan temuan itu dengan hak akses, bukti persetujuan, dan dokumen transaksi sebelum menentukan langkah lanjutan.

Fitur analisis populasi penuh tidak berarti semua transaksi berisiko pasti salah. Risk score berfungsi sebagai tools prioritas.

Jika data cabang menggunakan chart of accounts yang berubah-ubah, maka team member perlu mapping lebih dulu.

Tanpa langkah seperti itu, model akan menghasilkan terlalu banyak alarm dan membuang waktu reviewer.

5. Trullion, untuk Lease Accounting dan Proses Audit

Untuk Lease Accounting dan Proses Audit

Trullion mengubah kontrak dan dokumen keuangan menjadi data yang tetap terhubung dengan sumber.

Produknya mencakup data extraction, data matching, financial statement review, lease accounting, revenue assurance, serta asisten AI khusus akuntansi dan audit.

Untuk perusahaan yang mengelola puluhan kontrak sewa, modul lease accounting Trullion mampu mengekstrak tanggal, payment, opsi perpanjangan, dan detail lain.

Sistem lalu membantu membuat jadwal, jurnal, laporan pengungkapan, serta audit log untuk ASC 842 atau IFRS 16. Tim akan kembali ke klausul sumber ketika auditor menanyakan asal asumsi.

Trullion lebih masuk akal untuk perusahaan atau firma audit dengan kontrak kompleks daripada usaha yang hanya membutuhkan kas masuk, kas keluar, dan laporan laba rugi.

Pengguna di Indonesia tetap perlu memetakan IFRS 16 ke kebijakan PSAK yang berlaku dan meminta akuntan menilai klasifikasi, modifikasi, serta asumsi kontrak.

Baca Juga: Berkenalan dengan Agentic AI, The Next Level dari Agent AI

Cara Memilih Aplikasi AI untuk Akuntansi yang Tepat

Anda bisa memulai dari satu bottleneck yang terukur. Jika invoice menumpuk, uji Vic.ai, sedangkan untuk rekonsiliasi dan tutup buku yang terlambat, lihat Docyt.

Jika staf audit menghabiskan waktu mencari bukti, pertimbangkan DataSnipper. Pilih MindBridge saat tim kesulitan memilih dan memilah transaksi berisiko atau Trullion ketika kontrak jadi sumber manual.

Setelah itu, minta penyedia aplikasi menjalankan data sampel milik Anda. Demo dengan data buatan sering terlihat rapi karena formatnya sudah ideal.

Dengan penggunaan data real akan menguji invoice yang buram, nama penyedia aplikasi yang berubah, chart of accounts lokal, mata uang, bahasa dokumen, nota kredit, split transaction, dan dokumen yang kurang lengkap.

Gunakan 5 pertanyaan berikut saat evaluasi:

  1. Bisakah pengguna menelusuri setiap output AI ke transaksi atau dokumen sumber?
  2. Siapa yang menyetujui jurnal, perubahan master data, dan pembayaran?
  3. Bagaimana sistem menangani confidence rendah, exception, dan koreksi manusia?
  4. Apakah integrasi mendukung ERP, bank, POS, serta struktur akun yang saat ini berjalan?
  5. Apakah kontrak menjelaskan enkripsi, lokasi data, retensi, penggunaan data untuk pelatihan model, dan prosedur penanganan masalah atau kejadian?
Cara Memilih Aplikasi AI untuk Akuntansi yang Tepat

Baca Juga: Cara Menggunakan Aplikasi AI untuk Pelaku UKM

Uji Coba AI Accounting Software Selama 14 Hari

Sebaiknya jangan memulai dari semua proses keuangan. Anda bisa mengambil satu flow atau satu periode. Contohnya, pilih 100 invoice dari customer dari 2 minggu terakhir.

Sertakan dokumen yang bersih, buram, berulang, menggunakan dan tanpa PO (pre order), serta memiliki credit note agar pengujian mewakili kondisi kerja.

Hari pertama, catat baseline seperti menit per invoice, jumlah koreksi coding, waktu approval, jumlah duplikasi yang lolos, dan lama reviewer menemukan bukti.

Jalankan AI tools selama 14 hari secara aktif, akuntan memeriksa coding dan auditor menilai kecukupan bukti.

Bandingkan hasilnya menggunakan 5 kriteria seperti: straight through processing rate, exception rate, correction rate, waktu mencari bukti, dan days to close.

Tambahkan biaya per transaksi serta jumlah jam review. Pengujian bisa Anda lanjut kalau waktu jadi lebih efisien tanpa menaikkan koreksi, exception, atau risiko akses.

Baca Juga: Mengobrol dengan Meta AI WhatsApp, Lakukan Hal Ini!

Risiko Menggunakan Aplikasi AI dalam Akuntansi yang Perlu Anda Ketahui

Ada beberapa risiko yang perlu Anda pahami kalau menggunakan tools AI untuk pekerjaan akuntansi, antara lain:

1. Kualitas Data Buruk

AI tidak bisa memperbaiki chart of accounts yang berantakan atau dokumen tanpa konteks.

Untuk itulah tetapkan penggunaan data dan selesaikan mapping sebelum mengukur akurasi model.

2. Terlalu Bergantung pada Automation

Staf seringnya terlalu percaya pada coding atau risk score karena layar menampilkannya dengan rapi.

Terapkan ambang batasnya seperti review berbasis risiko, approval berlapis, dan sampling dari transaksi yang AI loloskan. IAASB juga menempatkan teknologi sebagai bagian dari perubahan kualitas audit.

3. Hindari Memasukkan Data Sensitif

Data tersebut mencakup invoice, rekening koran, data pelanggan, atau kontrak ke chatbot publik tanpa persetujuan perusahaan.

Tim perlu menilai akses berbasis peran, audit log, enkripsi, retensi, serta mekanisme penghapusan data. Libatkan tim finance, auditor, IT, dan legal sejak tahap pengujian.

Risiko Menggunakan Aplikasi AI dalam Akuntansi yang Perlu Anda Ketahui

Baca Juga: Mengenal Prinsip Etika Data Pribadi Konsumen untuk CS

Kesimpulan

Aplikasi AI untuk akuntansi memberi hasil terbaik saat perusahaan mengaitkannya dengan pekerjaan dan kontrol yang jelas.

Vic.ai unggul untuk AP berjumlah tinggi, Docyt untuk pembukuan dengan tingkat data yang lebih sulit, DataSnipper untuk bukti audit di Excel, MindBridge untuk penilaian risiko transaksi, dan Trullion untuk kontrak serta workflow audit yang membutuhkan traceability.

Anda bisa mencoba eksperimen kecil-kecilan dengan mengukur exception dan koreksi, lalu perluas pemakaian setelah tim percaya pada data dan alur review yang jelas.

Di sisi lain, tidak semua kebutuhan bisnis membutuhkan aplikasi AI untuk menjalankan aktivitas pembukuan, audit, menghitung HPP, pengelolaan invoice dan laporan keuangan, 

Anda harus mempertimbangkan kebutuhan dan skalabilitas bisnis, misalnya untuk pelaku UMKM atau bisnis UKM, bisa mempertimbangkan software akuntansi seperti Kledo.

Apabila transaksi dan permintaan pelanggan banyak masuk melalui WhatsApp, coba rapikan data pelanggan seperti kontak, riwayat chat, dan kerjasama dengan tim lain menggunakan aplikasi CRM, sehingga proses bisnis jauh lebih seamless.

Anda bisa mencoba daftar gratis untuk merasakan value penggunaan satru channel WA dan 50 ribu chat/bulan. Jika ada pertanyaan lebih lanjut bisa menghubungi kami melalui kontak WhatsApp berikut.

Ainur Rohman

Tinggalkan Komentar

four × 1 =