Contoh Biaya Marketing, Cara dan Rumus Perhitungannya

Contoh Biaya Marketing, Cara dan Rumus Perhitungannya

Di setiap praktik bisnis, biaya marketing selalu jadi topik yang cukup sensitif karena melibatkan dapur perusahaan.

Sedangkan di satu sisi, semua pelaku usaha sadar bahwa marketing adalah salah satu growth engine dan tidak bisa terpisahkan dalam aktivitas pengenalan product ke market.

Tapi ya itu, marketing sering dianggap sebagai salah satu aktivitas atau investasi yang boros dan dampaknya bisa merugikan hampir setengah biaya operasional perusahaan.

Nah untuk itu biaya marketing harus benar-benar dikalkulasi secara tepat dan dikelola dengan baik dan benar.

Sehingga nanti tidak ada lagi keluhan seperti,

“Iklan sudah jalan, konten rutin, tapi uangnya kok habis entah kemana tanpa ada leads atau ada yang beli?”

Atau

“Penjualan sih naik, tapi kita tidak tahu dari channel mana berasalnya” 

Untuk itu artikel dari CRM.ID ini akan membahas tentang contoh biaya marketing, cara menentukan budget, serta rumus perhitungannya.

Memahami Biaya Marketing dalam Konteks Bisnis

Memahami Biaya Marketing dalam Konteks Bisnis

Sebelum masuk pada pembahasan rumus perhitungan biaya marketing, kita perlu menyamakan pemahaman terlebih dahulu.

Jadi apa yang dimaksud dengan biaya marketing dan tujuannya?

Biaya marketing adalah seluruh pengeluaran pada aktivitas marketing yang bertujuan untuk:

  • Meningkatkan brand awareness
  • Menarik calon pelanggan (leads)
  • Menciptakan interest dan kepercayaan (trust)
  • Mengarahkan terjadinya transaksi pembelian (konversi)

Artinya, biaya marketing bukan hanya berfokus pada biaya iklan.

Setiap aktivitas yang membantu produk atau jasa Anda dikenal dan dipertimbangkan oleh target pasar, sudah pasti mengandung biaya marketing.

Contohnya ketika menggunakan influencer atau KOL, mengikuti sebuah event, atau menempatkan konten di media atau blog (content placement) juga membutuhkan biaya.

Ketika kita sudah menyeragamkan definisi biaya marketing, kita bisa melanjutkannya pada perbedaannya dengan biaya sales.

Baca Juga: Marketing Adalah: Ini Pengertian, Jenis, dan Manfaatnya

Perbedaan Biaya Marketing dan Biaya Sales

Perbedaan Biaya Marketing dan Biaya Sales

Dalam praktiknya, banyak laporan keuangan mencampuradukkan biaya marketing dan biaya sales.

Tapi keduanya berada pada ruang lingkup yang berbeda. Mencampuradukkan bisa terjadi kesulitan saat pembuatan laporannya.

Berdasarkan scope atau ruang lingkupnya, marketing bertugas memperkenalkan dan menarik perhatian pengguna atau pasar untuk melihat produk Anda.

Sedangkan sales bertugas mengonversi peluang (leads) yang diterima oleh tim marketing menjadi penjualan.

Ibaratnya tim sales menerima bola umpan dari tim marketing.

Contohnya biaya iklan Instagram dan sosial media lainnya termasuk biaya marketing.

Sedangkan cost untuk mengubah marketing qualified leads (MQL) menjadi sales qualified leads (SQL) dan closingan sudah pasti masuk biaya sales.

Berbeda dengan software CRM yang bisa masuk marketing atau sales tergantung fungsinya.

Baca Juga: Sales Marketing: Tugas dan Skill yang Dibutuhkan

Jenis-jenis Biaya Marketing yang Perlu Anda Ketahui

Jenis Biaya Marketing yang Perlu Anda Ketahui

Biaya Marketing Online atau Digital Marketing

Saat ini sebagian besar bisnis mengalokasikan anggaran marketing ke digital, karena mudah dalam pengukuran atau tracking, biayanya juga relatif lebih murah.

Ada beberapa biaya dalam digital marketing misalnya iklan atau untuk bidding ads

Ads ini cakupannya dari Google Ads, Meta Ads (Facebook dan Instagram), TikTok Ads, hingga LinkedIn Ads untuk segmen B2B.

Biaya iklan ini besarannya berdasarkan variabel-variabel tertentu, misalnya tergantung target, volume pencarian, kompetisi, dan durasi campaign.

Selain iklan, ada biaya produksi konten. Konten adalah salah satu daging di kegiatan digital marketing.

Mengandalkan iklan saja tanpa bersamaan dengan pembuatan konten, iklannya nanti hanya akan “membakar” uang. Tidak cocok untuk promosi dalam jangka panjang.

Biaya untuk konten itu termasuk:

  • Pembuatan desain grafis
  • Video pendek atau panjang
  • Copywriting landing page atau media sosial
  • Foto produk/brand atau logo
  • Artikel blog, dan lain sebagainya

Selain itu masih ada biaya lainnya seperti penggunaan atau langganan tools dan software. Contohnya:

  • Aplikasi CRM
  • Email marketing tools seperti Mailchimp
  • Automation tools
  • Analytics dan tracking tools pihak ketiga seperti Ahrefs atau HootSuite

Ada juga untuk biaya influencer dan affiliate, atau content placement, beli backlink, termasuk gaji manpowernya di tim-tim tersebut.

Biaya Marketing Offline atau Konvensional

Meskipun saat ini aspek digital marketing sangat mendominasi, marketing offline masih terbilang relevan dalam beberapa kasus dan sektor industri tertentu.

Misalnya biaya marketing offline bisa berupa:

  • Cetak brosur, flyer, katalog
  • Banner dan billboard di tempat umum atau pada transportasi publik
  • Iklan di televisi
  • Event, pameran, dan roadshow
  • Sponsorship acara
  • Merchandise

Biaya iklan atau promosi secara konvensional masih lebih besar per aktivitasnya daripada yang online.

Selain itu juga tidak terukur, karena acuannya hanya seberapa banyak orang yang menghubungi via nomor atau alamat kontak di iklan tersebut.

Iklan jenis ini masih sangat berguna untuk industri seperti real estate, retail, dan FMCG (Fast-Moving Consumer Goods).

Biaya Marketing Internal untuk ManPower-nya

Biaya ini biasanya juga beririsan dengan departemen lain seperti operasional dan human resources.

Karena melibatkan langsung pada man power atau pekerja yang menjalankan tugas-tugas di marketing

Biaya ini mencakup:

  • Gaji tim marketing
  • Freelance, agency, atau konsultan
  • Training dan workshop
  • Biaya riset pasar
  • Biaya penggunaan tools dan operasional tim

Baca Juga: Mengenal 12 Tipe Harga Psikologis dalam Bisnis

Contoh Biaya Marketing Berdasarkan Skala Bisnis

Contoh Biaya Marketing Berdasarkan Skala Bisnis

1. Contoh Biaya Marketing untuk UMKM

UMKM biasanya memiliki keterbatasan budget, sehingga biaya marketingnya harus berfokus pada channel yang paling cepat menghasilkan berdampak.

Misalnya pemilik bisnis UMKM dengan omset Rp 50.000.000/bulan memutuskan untuk fokus ke digital marketing.

Dalam satu bulan, rincian pengeluarannya (anggap sebagai asumsi kasar) sebagai berikut:

  • Iklan Instagram dan Facebook: Rp1.500.000
  • Jasa desain konten: Rp500.000
  • Endorse influencer dari nano hingga mikro: Rp1.000.000
  • Penggunaan tools sederhana (Canva Pro dan schedule post social media): Rp200.000

Total biaya marketing-nya sebanyak Rp3.200.000 atau sekitar 6,4% dari omsetnya dan masih tergolong cocok untuk UMKM yang masih berkembang.

2. Contoh Biaya Marketing untuk Bisnis Menengah

Bisnis menengah biasanya sudah memiliki struktur yang lebih rapi dan akan lebih berinvestasi lebih besar lagi pada biaya marketing.

Misalnya bisnis menengah dengan omset Rp 300.000.000/bulan:

  • Iklan ads untuk media sosial dan Google ads: Rp10.000.000
  • Produksi konten dan video: Rp8.000.000
  • Penggunaan aplikasi CRM dan marketing tools: Rp5.000.000
  • Event kecil atau beberapa kolaborasi: Rp4.000.000

Total biaya marketing: Rp27.000.000 atau sekitar 9% dari omsetnya. Semua perhitungan ini penulis anggap hanya hitung-hitungan kasar.

Di level ini, promosi marketing sudah tidak lagi mengejar penjualan langsung, tapi pada penguatan scale up, brand dan positioning.

3. Contoh Biaya Marketing untuk Perusahaan Besar dan B2B

Di perusahaan besar atau B2B, pendekatan atau alokasi biaya sudah jauh lebih strategic. Budget biasanya disusun per kuartal, semester, atau tahunan.

Komponen ini mencakup beberapa hal:

Persentasenya umumnya berkisar antara 5-12% dari omset, tergantung industri dan fase bisnisnya.

Baca Juga: Terapkan Motivasi Sales Berikut Agar Penjualan Tidak Lesu

Cara Menentukan Budget Biaya Marketing yang Tepat

Cara Menentukan Budget Biaya Marketing yang Tepat

1. Metode Persentase dari Omset Penjualan

Metode perhitungan ini terbilang paling sederhana dan paling sering digunakan di beberapa kasus.

Sebagai gambarannya, misalnya ada UMKM dengan spent 6-9% dari omset penjualannya.

Sedangkan untuk bisnis yang sudah dalam tahap growth/scale up mengalokasikan 9-15%.

Untuk brand baru jika ingin cepat bisa dengan lebih agresif menggunakan biaya marketingnya, jika cukup bisa sampai diatas 15%. Bisa juga dibawah 6%.

Tapi jika ingin mengalokasikan biaya tersebut pastikan Anda sudah menentukan target atau objective secara spesifik.

2. Metode Berdasarkan Target Penjualan

Pendekatan berdasarkan target penjualan dimulai dari target bisnis, bukan dari seberapa banyak alokasi biaya atau uang yang tersedia.

Misalnya: target penjualan sampai 100 transaksi tapi konversi leads ke transaksi hanya berkisar 10%. Jadi setidaknya membutuhkan 1.000 leads.

Jika rata-rata CPL (cost per lead) sebanyak Rp 35.000, maka budget marketing yang dibutuhkan adalah Rp 35.000.000.

Metode ini jauh lebih akurat daripada hanya menggunakan perhitungan omset penjualan, tapi tantangannya yaitu membutuhkan analisis data historis yang ada sebelumnya.

3. Metode Benchmark Kompetitor

Bisnis yang menggunakan budget dengan melihat beberapa parameter seperti seberapa agresif kompetitor ketika beriklan, channel yang mereka gunakan, dan intensitas promosinya.

Metode ini cocok penggunaannya ketika bisnis atau industri dengan persaingan ketat atau sangat super ketat.

4. Metode Objective-Based

Budget ditentukan berdasarkan tujuan seperti ingin meningkatkan brand awareness, ingin mendapatkan leads, akuisisi penjualan produk tertentu pada pelanggan baru.

Setiap tujuan memiliki pendekatan dan biaya yang berbeda. Metode ini membuat marketing lebih terarah dan dinilai lebih strategis dalam beberapa kasus.

Baca Juga: 8 Cara Mengoptimalkan Customer Acquisition Cost (CAC)

Rumus Perhitungan Biaya Marketing yang Wajib Anda Pahami

Menghitung Total Biaya Marketing

Rumusnya:

Total Biaya Marketing = Seluruh pengeluaran marketing dalam periode tertentu

Menghitung Cost per Lead (CPL)

Rumus:

CPL = Total Biaya Marketing ÷ Jumlah Lead

CPL digunakan untuk mengukur efisiensi mendapatkan leads. Jika CPL terlalu tinggi, maka akan ada masalah di targeting, konten, atau channel.

Perhitungan Cost per Acquisition (CPA)

Rumus:

CPA = Total Biaya Marketing ÷ Jumlah Customer

CPA mengukur biaya untuk mendapatkan pelanggan. CPA yang sehat harus memiliki perbandingan dengan margin produk.

Cara menghitung ROI (Return on Investment)

Rumus:

ROI = (Revenue – Biaya Marketing) ÷ Biaya Marketing x 100%

ROI adalah metrik yang untuk menghitung investasi apakah untuk atau rugi (boncos/buntung).

ROI positif berarti yang diperoleh melebihi dari investasi biaya marketing. Begitu juga sebaliknya.

Baca Juga: Pengertian Return of Investment (ROI) dan Cara Menghitungnya

Cara Mencatat, Mengontrol, dan Mengoptimalkan Biaya Marketing

crm banner 1

Untuk bisa mencatat dan mengontrol biaya maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

  • Memisahkan biaya per channel
  • Mencatat secara rutin per mingguan atau bulanan
  • Bisa dengan membandingkan biaya dengan hasilnya

Sedangkan untuk mengoptimasinya adalah dengan mendayagunakan dan mengalihkan biaya ke channel yang paling punya.

Beberapa prinsip penting seperti evaluasi performanya secara rutin, berfokus pada channel yang memberikan ROI tertinggi, melakukan uji coba terlebih dahulu sebelum proses scaling, dan menggunakan data untuk melihat performa.

Baca Juga: Optimasi Layanan Pelanggan: Ini 7 Cara Melakukannya

Kesimpulan

Demikian penjelasan contoh biaya marketing, cara, dan rumus perhitungannya.

Dari artikel ini Anda bisa menggunakan biaya marketing lebih dari sekedar sebagai instrumen cost memperkenalkan produk atau jasa bisnis Anda.

Contoh, cara menentukan budget, dan rumus perhitungannya, Anda bisa menghitungnya sendiri.

Metode cara perhitungan atau alokasi biaya berdasarkan skala bisnis sebagaimana penjelasan sebelumnya, jadi Anda bisa menyesuaikan pada skalabilitas bisnis.

Semua parameter tersebut menjadikan Anda bisa mengoptimalkan biaya lebih efisien untuk semua operasional bisnis dan kemudahan dalam pelaporan.

Untuk mengurangi salah satu pemakaian biaya marketing tapi Anda masih perlu menggunakan tools marketing dan sales seperti aplikasi CRM, maka CRM.ID menyediakan aplikasi yang murah dan tampilannya sangat minimalis.

Biaya CRM.ID hanya membutuhkan seharga Rp 40/pesan (unlimited message, monthly active users, multi agent, dan dengan sistem keamanan yang melindungi data pelanggan).

Data-data menggunakan dashboard dengan grafis mudah membuat pengelolaan chat dan kontak pelanggan.

Jadi tunggu apa lagi, Anda bisa melakukan demo aplikasi WhatsApp CRM sebagai salah satu yang menghemat biaya marketing Anda.

Berikut ini kontak tautan yang bisa Anda gunakan untuk demo.

Ainur Rohman

Tinggalkan Komentar

twenty − 15 =