Contoh Chat Penagihan Utang lewat WhatsApp yang Sopan & Aman

Contoh Chat Penagihan Utang lewat WhatsApp Yang Sopan & Aman

Nagih utang itu canggung, apalagi kalau yang ditagih teman sendiri. Ditagih terlalu halus, dia lupa. Ditagih terlalu keras, hubungan rusak, atau justru teman-teman yang kena masalah hukum. Di artikel ini berisi template atau contoh chat penagihan utang lewat WhatsApp yang bisa langsung Anda pakai, dengan susunan dari reminder paling ringan sampai somasi, lengkap dengan batasan yang perlu Anda jaga.

Kenapa Penagihan Utang Lewat WA Sering Tidak Digubris?

Kebanyakan chat penagihan gagal terjadi bukan karena orangnya tidak mau bayar juga, tapi ada faktor pesannya mudah orang-orang abaikan.

Coba lihat contoh chat penagihan seperti ini: “Bro, yang kemarin gimana ya?” Tidak ada nominal, tanggal, dan permintaan yang jelas. Penerima bisa saja pura-pura tidak paham, atau membalas “nanti ya” tanpa batas waktu.

Ada tiga hal yang membuat chat penagihan utang lebih mungkin mereka respon.

Pertama, nada. Pesan yang emosional atau menyindir membuat orang defensif. Begitu dia merasa diserang, fokusnya pindah dari “gimana caranya bayar” ke “gimana caranya membela diri”. Nada netral dan sopan membuat dia lebih gampang mengaku belum bisa bayar dan mengajukan solusi.

crm banner 2

Kedua, timing. Chat di jam istirahat siang atau sore hari biasanya lebih mudah terbaca daripada jam 11 malam. Anda bisa mengirim juga saat ada momen yang masuk akal, misalnya sehari sebelum jatuh tempo atau setelah tanggal gajian.

Ketiga, kejelasan nominal dan deadline. Sebutkan angka atau nominal pasti, tanggal pinjam, dan tanggal yang bisa teman-teman minta untuk pembayaran. Pesan yang spesifik menyulitkan orang untuk mengulur, dan sekaligus jadi catatan tertulis kalau suatu saat butuh bukti.

Satu lagi, yaitu jangan mengirim chat secara beruntun. 5 pesan dalam sejam tanpa balasan cuma membuat Anda terlihat panik, dan memberi alasan buat dia memblokir nomor teman-teman.

Baca Juga: Cara Order Atau Transaksi via WhatsApp, Wajib Dicoba!

Aturan Agar Chat Penagihan Tetap Sopan dan Tidak Melanggar Hukum

Utang piutang antar pribadi masuk ranah perdata. Artinya, Anda berhak menagih, tapi cara menagihnya tetap punya batas. Melewati batas itu bisa membalik posisi, misalnya teman-teman yang tadinya korban jadi pihak yang bisa terlapor.

Patokan yang paling rapi justru datang dari aturan untuk lembaga keuangan. OJK lewat POJK Nomor 22 Tahun 2023 tentang Pelindungan Konsumen mengatur cara penagihan oleh pelaku usaha jasa keuangan.

Aturan ini memang ditujukan untuk lembaga, bukan perorangan, tapi prinsipnya masuk akal sebagai standar siapa pun yang menagih.

Penagih tidak boleh mengancam, memakai kekerasan, mempermalukan, atau menekan secara fisik maupun verbal. Penagihan juga hanya untuk orang yang berutang, bukan ke keluarga, rekan kerja, atau kontak lain di ponselnya.

Perlu juga ada batasan waktu saat melakukan penagihan, misalnya Senin sampai Sabtu di luar hari libur nasional, pukul 08.00 sampai 20.00 waktu setempat, kecuali ada kesepakatan lain.

Dari sisi pidana, ada beberapa hal yang sering mereka anggap sepele padahal berisiko:

  • Mengancam akan menyebarkan aib atau foto supaya orang membayar bisa masuk ketentuan pemerasan dan pengancaman di KUHP. Kalau dilakukan lewat chat, UU ITE juga mengatur pengancaman yang dikirim secara elektronik.
  • Menyebarkan data pribadi seperti  KTP, nomor HP, atau foto orang yang berutang ke grup atau media sosial menyentuh UU Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi.
  • Mengancam “lapor polisi” hanya karena orang belum bisa bayar juga keliru. UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM menyatakan seseorang tidak boleh dipenjara semata-mata karena tidak mampu memenuhi kewajiban utang piutang. Lain cerita kalau sejak awal ada unsur penipuan, misalnya identitas palsu atau janji yang sengaja dibuat untuk menipu.

Jadi, pegangannya adalah tagih orangnya langsung, di jam wajar, dengan bahasa yang gak akan membuat teman-teman malu kalau chat itu di-screenshot dan disebar.

Baca Juga: Bagaimana WhatsApp Mengubah Tren Komunikasi Bisnis

Contoh Template Chat Penagihan Berdasarkan Tahapan/Workflownya

Template Chat Penagihan Berdasarkan Tahapan atau Workflownya

Sesuaikan isi dalam kurung siku dengan kondisi teman-teman. Semakin spesifik datanya, semakin kecil peluang orang menghindar.

Reminder Halus (H-1 / Hari Jatuh Tempo)

Di tahap ini, anggap saja dia memang lupa. Tujuannya cuma mengingatkan, bukan menagih.

Halo [Nama], semoga sehat ya. Mau ngingetin aja, pinjaman [Rp nominal] yang tanggal [tanggal pinjam] jatuh temponya besok, [tanggal]. Kalau sudah siap, bisa transfer ke [bank & nomor rekening a.n. nama]. Makasih ya!

Versi hari jatuh tempo:

Pagi [Nama]. Hari ini jatuh tempo pinjaman [Rp nominal] ya. Kabari aja kalau sudah transfer, biar aku cek. Thanks!

Follow-up Pertama (Telat 1-3 Hari)

Masih santai, tapi sekarang Anda minta kepastian. Tutup dengan pertanyaan supaya dia terdorong membalas.

Hai [Nama], aku cek belum ada transfer masuk untuk pinjaman [Rp nominal] yang jatuh tempo [tanggal]. Mungkin kelewat ya. Kira-kira bisa diselesaikan kapan? Biar aku bisa atur keuanganku juga.

Kalimat terakhir itu penting. Dia jadi tahu bahwa keterlambatannya berdampak tanpa perlu menyalahkan.

Penagihan Tegas tapi Santun (Telat 1-2 Minggu)

Tegas di sini artinya jelas soal deadline dan konsekuensinya, bukan kasar.

[Nama], aku mau bahas pinjaman [Rp nominal] yang sudah lewat [jumlah] hari dari jatuh tempo [tanggal]. Aku sudah coba ingetin tanggal [tanggal chat sebelumnya] tapi belum ada kabar. Aku minta pembayarannya paling lambat [tanggal baru]. Kalau memang lagi ada kendala, bilang aja, kita cari jalan tengahnya bareng. Tapi aku butuh jawaban dari Anda.

Kalau dia sempat menjanjikan tanggal tertentu, kutip janjinya. Contoh: “Kemarin teman-teman bilang tanggal 10 bisa, tapi belum masuk.” Fakta tertulis lebih sulit dibantah daripada perasaan.

Tawaran Cicilan / Somasi Ringan (Telat Lama)

Kalau sudah berbulan-bulan, besar kemungkinan masalahnya memang kemampuan bayar. Menawarkan cicilan sering lebih efektif daripada terus menuntut lunas.

[Nama], pinjaman [Rp nominal] sudah lewat [jumlah] bulan dari jatuh tempo. Aku paham mungkin kondisimu lagi berat. Gimana kalau dicicil [Rp nominal per bulan] tiap tanggal [tanggal], mulai [bulan]? Kalau angka itu masih berat, kasih tahu kemampuanmu berapa, nanti kita sepakati bareng.

Kalau tawaran itu juga diabaikan, kirim peringatan terakhir sebelum langkah formal:

[Nama], ini pesan terakhirku soal pinjaman [Rp nominal] dari tanggal [tanggal pinjam]. Kalau sampai [tanggal] belum ada pembayaran atau kesepakatan cicilan, aku akan kirim surat somasi resmi dan menempuh jalur hukum perdata. Aku lebih suka kita selesaikan baik-baik, jadi aku tunggu kabarmu.

Somasi resmi sebaiknya dikirim sebagai surat, bukan cuma chat. Berdasarkan Pasal 1238 KUHP, somasi menjadi dasar bahwa pihak yang berutang dinyatakan lalai, yang nanti dibutuhkan kalau teman-teman menggugat.

Perlu diingat juga, banyak orang yang telat bayar sebenarnya sedang terjepit beberapa utang sekaligus, mulai dari kartu kredit, KTA, sampai pinjaman online.

Kalau yang Anda tagih ternyata sedang di posisi itu, mengarahkannya ke layanan konsultasi penyelesaian utang bisa membantu dia menata ulang kewajibannya, dan membuka peluang utangmu ikut terbayar terutama lewat program dana talangan.

Baca Juga: 25 Contoh Template Percakapan Customer Service dengan Pelanggan

Contoh Template Chat Penagihan Utang pada Pelanggan Berdasarkan Objek Tagihan

Contoh Template Chat Penagihan Utang pada Pelanggan Berdasarkan Objek Tagihan

Ke Teman / Saudara (Jaga Hubungan)

Pisahkan urusan utang dari urusan pertemanan. Jangan menagih di grup keluarga atau di depan orang lain.

[Nama], maaf aku bahas ini lewat chat ya, biar gak canggung pas ketemu. Soal yang [Rp nominal] waktu [konteks, misalnya: teman-teman pindahan kemarin], kira-kira kapan bisa dikembaliin? Gak harus sekaligus kok, yang penting ada kepastian.

Kalimat “biar gak canggung pas ketemu” memberi sinyal bahwa teman-teman masih ingin hubungannya baik-baik saja.

Ke Klien / Customer (Invoice Bisnis)

Untuk urusan bisnis, nada profesional dan data lengkap jadi kunci. Sertakan nomor invoice supaya bagian keuangan klien gampang melacaknya.

Selamat siang Bapak/Ibu [Nama]. Kami dari [nama usaha] ingin mengingatkan invoice nomor [nomor invoice] senilai [Rp nominal] dengan jatuh tempo [tanggal]. Hingga hari ini kami belum menerima pembayarannya.

Pembayaran dapat dilakukan ke [bank & nomor rekening a.n. perusahaan]. Jika pembayaran sudah dilakukan, mohon kirimkan bukti transfernya agar bisa kami cocokkan. Terima kasih atas kerja samanya.

Kalau sudah lewat beberapa minggu, tanyakan apakah ada kendala di proses internal mereka. Sering kali invoice tertahan karena belum disetujui atasan atau tersangkut di bagian keuangan, bukan karena klien gak mau bayar.

Ke Orang yang Mulai Susah Dihubungi

Pesan dibaca tapi gak dibalas, atau centang satu terus. Di tahap ini, berhenti mengirim chat beruntun. Kirim satu pesan yang rapi dan lengkap, lalu beri jeda.

[Nama], aku sudah coba hubungi beberapa kali sejak [tanggal] soal pinjaman [Rp nominal]. Aku gak tahu apa yang lagi Anda hadapi, dan aku gak mau ini merusak hubungan kita.

Tolong balas sekali saja, meskipun cuma untuk bilang kapan teman-teman bisa bayar. Kalau sampai [tanggal] belum ada kabar, aku terpaksa lanjut ke jalur formal.

Sambil menunggu, rapikan bukti seperti screenshot chat yang menunjukkan kesepakatan pinjaman, bukti transfer saat teman-teman meminjamkan uang, dan riwayat penagihan.

Untuk nilai sampai Rp 500 juta, Anda bisa mengajukan gugatan sederhana ke pengadilan negeri sesuai PERMA Nomor 4 Tahun 2019. Prosesnya lebih cepat dari gugatan biasa dan bisa diurus tanpa pengacara.

Menghubungi keluarga atau atasan dia memang menggoda, tapi hindari. Selain melanggar prinsip penagihan yang etis, cara itu bisa jadi bumerang hukum buat teman-teman.

Baca Juga: 10 Contoh Template Broadcast Whatsapp Untuk Bisnis Anda

Kesimpulan

Menagih utang lewat WhatsApp tidak harus berujung pada konflik. Kuncinya adalah menyampaikan pesan secara bertahap, mulai dari pengingat yang sopan, meminta kepastian pembayaran, memberikan tenggat yang jelas, hingga menawarkan cicilan jika memang ada kendala keuangan.

Semakin lama utang tidak dibayar, semakin penting untuk menyimpan bukti komunikasi, nominal, tanggal jatuh tempo, dan riwayat pembayaran.

Yang tidak kalah penting, jangan sampai cara menagih justru menimbulkan masalah hukum baru. Hindari ancaman, penghinaan, mempermalukan orang yang berutang, menyebarkan data pribadinya, atau menghubungi keluarga dan rekan kerjanya untuk menekan pembayaran.

Jika penagihan informal tidak berhasil, langkah berikutnya dapat dilakukan secara formal melalui somasi dan, bila diperlukan, jalur hukum perdata.

Pada akhirnya, penagihan yang efektif lebih fokus ke penyampaian pesan yang lebih jelas, konsisten, dan tetap berada dalam batas hukum,

Sampaikan nominal dan deadline secara spesifik, beri kesempatan untuk mencari solusi, lalu naikkan ke penagihan secara bertahap jika tidak ada itikad baik untuk menyelesaikan utang.

Jika teman-teman ingin mengelola banyak pesan yang lebih rapi dan tidak takut ada yang tertinggal, maka bisa mempertimbangkan penggunaan WhatsApp Business API dengan aplikasi CRM, dengan menghubungi kontak WhatsApp tim CS berikut.

*Artikel ini adalah hasil kerjasama antara CRM.ID da FLIN

Ainur Rohman

Tinggalkan Komentar

four + 15 =