Mengenal Apa Itu Open Rate: Perbedaan di Email vs WA

Mengenal Apa Itu Open Rate - Perbedaan di Email vs WA

Untuk Anda yang bergelut di bidang marketing, sales, customer service/support, atau di strategi bisnis, pasti tidak asing dengan istilah open rate.

Open rate adalah salah satu metrik atau standar untuk mengukur seberapa banyak penerima pesan yang benar-benar membuka pesan yang masuk.

Pada awalnya, penggunaan metrik ini banyak di email marketing, sekarang juga banyak digunakan di komunikasi WhatsApp.

Metrik ini jadi standar untuk menentukan apakah strategi komunikasi sudah efektif, apakah pesan promosi Anda cukup menarik atau apakah waktu pengiriman sudah tepat.

crm banner 2

Untuk itu, artikel CRM.id ini akan membahas tentang open rate, cara menghitungnya, perbedaan antara di email dan WhatsApp, dan bonus tips cara meningkatkan di kedua channel ini.

Dengan memahami hal ini, Anda bisa membuat strategi komunikasi yang lebih tepat dan punya peluang peningkatan rasio open rate.

Apa Alasannya Open Rate Cukup Penting di Komunikasi Bisnis?

Beberapa business owner mengira jika pesan sudah terkirim dengan packaging menarik (menurut mereka), secara otomatis pelanggan pasti akan membukanya.

Tapi kenyataannya tidak seperti itu. Pesan bisa saja masuk ke inbox mereka, tapi tidak pernah mereka buka.

Bisa juga pesan tertimbun oleh pesan lain yang masuk setelahnya (hal yang lumrah terjadi di WhatsApp).

Open rate membantu apakah pesan yang Anda buat benar-benar menarik perhatian pelanggan.

Misalnya, ada contoh kasus sebuah online shop mengirimkan email promosi ke 1.000 pelanggan.

Jika hanya 150 orang yang membuka email tersebut, berarti hanya sebagian kecil pelanggan yang benar-benar melihat pesan promosi tersebut.

Tanpa mengetahui open rate, owner mungkin akan mengira kalau semua pelanggan sudah menerima dan membaca pesan tersebut.

Open rate juga bisa jadi indikator awal untuk menilai keberhasilan sebuah campaign.

Jika open rate tinggi, berarti pesan berhasil menarik perhatian pelanggan.

Apa Alasannya Open Rate Cukup Penting di Komunikasi Bisnis

Sebaliknya, jika open rate rendah, mungkin ada masalah pada judul email, waktu pengiriman, isi pesan WhatsApp, atau bahkan pada tingkat trusted pengirim pesan.

Bagi tim customer service dan marketing di UKM, memahami open rate juga penting untuk melakukan evaluasi strategi komunikasi.

Dengan melihat data ini, Anda bisa memperbaiki cara menyusun struktur pesan, memilih waktu pengiriman yang lebih tepat dan menyesuaikan konten dengan kebutuhan pelanggan.

Baca Juga: Ketahui Algoritma WhatsApp Biar Aman Saat Broadcast Pesan

Apa Itu Open Rate dan Perannya?

Open rate adalah persentase jumlah penerima/pelanggan yang membuka pesan berbanding dengan jumlah pesan yang terkirim.

Penggunaan metrik ini biasanya pada email marketing untuk mengukur ketepatan sasaran sebuah campaign email.

Tapi penggunaan open rate sendiri sering juga pada instant messaging seperti WhatsApp.

Open rate membantu Anda menjawab pertanyaan-pertanyaan, berapa banyak orang yang benar-benar membuka pesan Anda?

Apa pelanggan tertarik dengan broadcast pesan yang Anda kirimkan? Apakah strategi komunikasinya sudah terbilang cukup tepat sasaran?

Jika pesan tidak dibuka, maka kemungkinan besar isi pesan tersebut juga tidak pernah terbaca.

Artinya, penyampaian promosi tidak sampai kepada pelanggan dengan tepat atau akun tidak terverifikasi centang hijau (trusted).

Baca Juga: Cara Memasarkan Produk Baru di WhatsApp

Lalu, Seperti Apa Rumus Open Rate dan Bagaimana Cara Menghitungnya?

Seperti Apa Rumus Open Rate dan Bagaimana Cara Menghitungnya

Untuk memahami open rate dengan lebih jelas, kita perlu mengetahui cara menghitungnya.

Rumus open rate:

Open rate = (Jumlah pesan yang dibuka / Jumlah pesan yang berhasil dikirim) x 100%

Contoh kasusnya kami coba langsung hubungkan dengan Anda, supaya lebih relate.

Misal, Anda mengirimkan email promosi kepada 1.000 pelanggan.

Dari jumlah tersebut, 800 email berhasil terkirim. Lalu dari 800 email, 500 email dibuka oleh target penerima.

Maka open rate-nya sebesar (500 / 800) x 100 % = 62,5%.

Angka ini menunjukkan setidaknya hampir ⅔ dari total penerima benar-benar membuka email tersebut.

Kalau analisis menggunakan metrik pada digital marketing, penerapan open rate secara bersamaan dengan metrik lain, seperti:

  • Click Through Rate (CTR)
    CTR mengukur berapa banyak orang yang mengklik link di dalam body message pada email setelah membuka pesan tersebut.
  • Conversion Rate
    Conversion rate menunjukkan berapa banyak orang yang melakukan tindakan tertentu, seperti membeli produk atau mendaftar layanan Anda.

Dengan menggabungkan berbagai metrik ini, Anda bisa memahami customer journey mulai dari membuka pesan sampai saat transaksi pembelian.

Baca Juga: Cara Tingkatkan Conversion Rate Optimization dengan CRM

Seperti Apa Open Rate pada Email Marketing?

Email marketing adalah salah satu channel marketing yang paling lama penerapannya di digital marketing.

Dan termasuk channel paling awal yang mencetuskan istilah open rate.

Sampai saat ini, email masih menjadi salah satu media yang tepat untuk menyampaikan informasi atau promosi.

Terutama untuk newsletter atau komunikasi bisnis yang berbasis B2B atau kalangan profesional.

Open rate email yang baik biasanya berada pada kisaran 15-30%, meskipun angka ini berbeda, tergantung industri dan target audience.

Di email marketing, perhitungan dan pengukuran open rate secara akurat menggunakan tracking pixel.

Tracking pixel adalah gambar kecil yang disisipkan di dalam email.

Seperti Apa Rasio Bukaan pada Email Marketing

Ketika penerima membuka email dan email client memuat gambar tersebut, sistem akan mencatat kalau email telah dibuka.

Data ini berperan untuk menghitung open rate, meskipun metode ini juga memiliki beberapa keterbatasan.

Misalnya, jika Anda mematikan fitur loading gambar otomatis, maka email yang sebenarnya telah terbuka bisa saja tidak tercatat telah dibuka (opened).

Selain itu, saat ini email memiliki fitur perlindungan privasi yang mempengaruhi akurasi pelacakan open rate.

Meskipun demikian, open rate tetap menjadi salah satu tolok ukur email marketing, karena bisa memberikan overview apakah email campaign Anda tepat sasaran.

Beberapa faktor yang mempengaruhi open rate email antara lain:

1. Subject Email

Judul email adalah hal pertama yang bisa dilihat oleh penerima.

Subject email yang menarik berpeluang meningkatkan email dibuka oleh target penerima Anda.

2. Nama atau Alamat Email Pengirim

Penerima cenderung membuka email dari pengirim yang mereka kenal atau percayai.

Jika dari alamat email saja sudah sangat aneh, mereka sangat enggan membukanya. Takutnya malah phising.

3. Waktu Pengiriman

Mengirim email di waktu yang tepat bisa meningkatkan peluang open rate yang Anda kirimkan.

Misalnya akan sangat cocok email blast saat di jam-jam kerja (pukul 08.00 – 18.00), karena secara umum email banyak digunakan oleh kalangan profesional.

4. Relevansi Konten

Jika pelanggan merasa konten di email tersebut relevan dengan kebutuhan mereka, kemungkinan email dibuka akan lebih besar.

5. Frekuensi Pengiriman

Sama seperti waktu pengiriman, frekuensi pesan juga faktor email akan dibuka, semakin sering mengirimkan email (spam), maka mereka pasti juga malas membukanya.

Baca Juga: Contoh Variasi Email untuk Menawarkan Produk Anda

Bagaimana Kalau Open Rate di WhatsApp?

Bagaimana Kalau Open Rate di WhatsApp

Berbeda dengan email, WhatsApp adalah aplikasi instant messaging yang digunakan sangat aktif oleh banyak orang.

Pesan yang masuk biasanya langsung muncul sebagai pemberitahuan di smartphone pengguna, biasanya modelnya seperti push notification.

Karena sifatnya yang real time dan lebih personal, pesan WhatsApp sering memiliki tingkat keterbacaan yang jauh lebih tinggi daripada di email.

Bahkan beberapa riset, salah satunya ChatArchitect dengan judul “WhatsApp Analytics: How to Measure Customer Engagement”, menunjukkan kalau open rate WhatsApp lebih dari 90% (mencapai 98%)”

Angka yang cukup tinggi bukan?. Artinya, jika ada 10 orang yang menerima pesan, maka 9 orang akan membukanya.

Tingkat open rate yang tinggi ini terjadi karena beberapa alasan:

  • Pengguna sering menggunakan WhatsApp untuk aktivitas sehari-hari, bahkan untuk kepentingan pekerjaan dan bisnis
  • Pesan WhatsApp biasanya dianggap lebih personal daripada email

Karena alasan ini, banyak UKM (usaha kecil dan menengah) mulai menggunakan WhatsApp sebagai channel komunikasi bisnisnya dengan pelanggan

WhatsApp menggunakan sistem indikator keterbacaan pesan dengan tanda centang (mark):

  • Pesan dengan centang satu yang menandakan pesan telah berhasil dikirim ke server
  • Centang dua berwarna abu-abu menandakan pesan telah sampai ke penerima namun belum dibaca
  • Centang dua warna biru menandakan pesan telah dibaca oleh penerima

Meskipun ada juga yang mematikan centang biru, jadi sekalipun penerima pesan sudah membacanya, warnanya tetap centang dua abu-abu.

Oleh karena itu, penggunaan open rate juga menggambarkan persentase pesan yang telah dibaca oleh penerima.

Data yang tersedia biasanya hanya berupa status pesan terkirim dan dibaca.

Untuk itu perlu Anda pahami kalau WhatsApp tidak menyediakan metrik open rate secara resmi seperti di email marketing.

Hal itu karena keterbatasan tools atau masih menggunakan perhitungan manual open rate di WA tidak akurat.

Apabila pengguna mematikan centang biru dan tidak merespon sama sekali pesan Anda.

Baca Juga: Fitur Pesan Marketing WhatsApp Business, Ini Kata Meta!

Apa Saja Perbedaan Open Rate di Email dan WA (WhatsApp)?

Apa Saja Perbedaan Open Rate di Email dan WA (WhatsApp)

Meskipun penggunaannya sama-sama untuk berkomunikasi dengan pelanggan, email dan WhatsApp memiliki karakteristik yang sangat berbeda.

Adapun perbedaan itu antara lain:

1. Pengukuran Open Rate dan Cara Interpretasinya

Di email, pengukuran open rate menggunakan tools tracking pixel.

Sistem ini bekerja dengan membutuhkan dukungan (support) dari aplikasi email penerima.

Di WhatsApp, indikator pembacaan pesan berdasarkan pada status pesan yang terlihat langsung oleh pengirim.

2. Berdasarkan Perilaku Pengguna

Penggunaan email biasanya untuk komunikasi yang lebih formal, profesional, dan banyak di industri B2B.

Sementara WhatsApp lebih sering digunakan untuk komunikasi sehari-hari, ya meskipun sekarang juga banyak untuk penggunaan bisnis formal profesional.

Berdasarkan perilaku pengguna, pesan WhatsApp biasanya lebih cepat dibuka daripada email.

Selain itu, inbox email berisi pesan seperti newsletter, promosi, dan update lainnya.

Dan umumnya orang membuka email saat kondisi tertentu saja, seperti saat kerja, tidak selalu tiap waktu.

Hal inilah yang membuat pesan email seringkali terlewat begitu saja.

Sebaliknya, pesan WhatsApp biasanya muncul sebagai notifikasi langsung di ponsel pengguna, sehingga lebih sulit diabaikan.

Open rate email biasanya berkisar antara 15-30%. Sementara itu, tingkat pembacaan pesan WhatsApp sering kali lebih dari 90%.

Namun bukan berarti WhatsApp selalu lebih baik daripada email.

Kedua channel komunikasi ini memiliki fungsi yang berbeda dan bisa saling melengkapi satu sama lain.

Baca Juga: Cara Membuat WhatsApp Ads UMKM dan Perhitungan Biaya

Alasan Kenapa Banyak Owner UKM Beralih ke WhatsApp?

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak UKM mulai memanfaatkan WhatsApp sebagai tools komunikasi dengan pelanggan.

Ada beberapa alasan mengapa hal ini terjadi.

Pertama, WhatsApp memiliki tingkat keterbacaan pesan yang sangat tinggi. Pelanggan cenderung membuka pesan WhatsApp lebih cepat dibanding email.

Kedua, komunikasi melalui WhatsApp terasa lebih personal. Pelanggan bisa langsung membalas pesan dan berinteraksi secara real time dengan sebuah brand.

Ketiga, WhatsApp sangat populer di Indonesia. Hampir semua pengguna smartphone memiliki aplikasi ini di perangkat mereka.

Keempat, WhatsApp dapat digunakan untuk berbagai keperluan bisnis, seperti mengirimkan promo, memberikan notifikasi transaksi, hingga memberikan layanan pelanggan.

Baca Juga: Lakukan Banyak Hal dengan Pesan Marketing WhatsApp Business

Bagaimana Cara Meningkatkan Open Rate Email?

Bagaimana Cara Meningkatkan Open Rate Email

Meskipun open rate email sering lebih rendah daripada WhatsApp, email tetap jadi channel penting untuk komunikasi bisnis.

Anda bisa meningkatkan kemungkinan keterbukaan email oleh customer.

Berikut ini beberapa cara meningkatkan open rate di email:

1. Membuat Subject Email yang Lebih Menarik

Judul email harus cukup jelas untuk memberi gambaran tentang isi pesan sekaligus cukup menarik untuk memicu rasa ingin tahu penerima.

2. Coba Gunakan Personalisasi Email

Misalnya dengan menyebut nama pelanggan atau menyesuaikan konten email dengan minat mereka.

3. Waktu Pengiriman Harus Tepat

Mengirim email pada waktu yang tepat bisa meningkatkan peluang open rate email.

Kalau bergeraknya di sektor formal, B2B, profesional, dan lingkupnya bisnis, lebih cocok mengirimkan email di jam kerja, yaitu pagi sampai siang/sore hari.

4. Menjaga Kualitas Database Pelanggan di Email

Pastikan daftar email hanya berisi pelanggan yang benar-benar tertarik menerima informasi dari bisnis Anda.

5. Copywriting Elegan dan Punya Storytelling Kuat

Salah satu alasan kuat email marketing masih bertahan selain untuk profesional, yaitu karena copywritingnya elegan dan punya kekuatan storytelling.

Karena hal ini, membuat pembaca email mau klik ke tautan yang terlampir di email.

Baca Juga: 10 Contoh Template Email Marketing dan Tips Menulisnya

Lalu, Bagaimana Juga Cara Meningkatkan Open Rate WhatsApp?

Lalu, Bagaimana Juga Cara Meningkatkan Open Rate WhatsApp

Walaupun pesan WhatsApp cenderung lebih sering dibuka, bukan berarti semua pesan otomatis mendapatkan perhatian dari pelanggan.

Salah satu kesalahan yang kerap kali terjadi adalah mengirim pesan yang terlalu sering.

Jika pelanggan merasa terganggu oleh pesan promosi atau broadcast yang Anda kirimkan, mereka bisa saja mengabaikan pesan atau bahkan memblokir nomor Anda.

Penulisan pesan WhatsApp sebaiknya menggunakan bahasa yang simple dan senatural mungkin.

Coba hindari menggunakan pesan yang terlalu panjang atau terlalu formal, jika bergeraknya di sektor bisnis B2C (penjualan langsung ke customer).

Selain itu, Anda juga bisa mempetimbangkan untuk melakukan segmentasi pelanggan.

Tidak semua pelanggan memiliki minat yang sama, sehingga pesan yang terkirim sebaiknya menyesuaikan dengan kebutuhan mereka.

Baca Juga: Strategi WhatsApp Marketing yang Jitu Meningkatkan Leads

[Overview] Bagaimana Cara Memilih Channel Komunikasi yang Tepat?

Email dan WhatsApp masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Oleh karena itu, bisnis perlu memahami kapan sebaiknya menggunakan masing-masing channel komunikasi tersebut.

Email biasanya lebih cocok untuk komunikasi yang lebih formal atau untuk mengirim informasi yang lebih panjang, seperti newsletter, laporan, atau promosi detail.

Sementara itu, WhatsApp lebih cocok digunakan untuk komunikasi yang cepat dan langsung, seperti notifikasi transaksi, pengingat pembayaran, respon pertanyaan pelanggan atau komunikasi yang lebih personal dan real time.

Dalam banyak kasus, strategi terbaik adalah menggabungkan kedua channel ini, untuk saling melengkapi di customer journey.

Selain itu untuk mencapai business goals atau meningkatkan efektivitas komunikasi sekaligus membangun hubungan yang lebih kuat dengan pelanggan.

Bagaimana Cara Memilih Channel Komunikasi yang Tepat

Baca Juga: 10 Rekomendasi Aplikasi WA Blast Terbaik

Kesimpulan

Seperti itulah penjelasan terkait open rate, perbedaannya di channel email dan WhatsApp.

Open rate adalah salah satu metrik yang berguna buat memastikan apakah pesan yang Anda kirim, baik di email atau WA benar-benar tepat sasaran (dibuka oleh pelanggan).

Di email, perhitungan open rate menggunakan tools pelacakan seperti pixel tracking.

Sementara di WhatsApp, open rate lebih sering berkaitan dengan status pesan yang telah dibaca oleh penerima (umumnya dua centang biru).

Dari tingkat open rate pesan di WhatsApp cenderung lebih tinggi (90%) daripada email (hanya sekitar 15-30%) karena sifatnya yang lebih personal, real time, dan banyak digunakan di Indonesia.

Tapi kedua channel ini memiliki peran yang berbeda dan saling melengkapi mendukung strategi komunikasi bisnis.

Salah satu tools yang memanfaatkan WhatsApp yaitu CRM.id.

CRM.id sebagai CRM WhatsApp yang berasal dari Yogyakarta memudahkan pekerjaan customer success, customer service, sales, dan business owner untuk mengelola data pelanggan.

Dengan tingkat open rate tinggi dan kombinasi dengan aplikasi CRM.id proses kerja jadi lebih efisien.

Jika Anda tertarik untuk mencoba menggunakan secara lengkap, Anda bisa daftar aplikasi CRM.

Jika masih ingin mencoba beberapa fiturnya, bisa dengan menjadwalkan demo CRM bersama tim kami.

Ainur Rohman

Tinggalkan Komentar

four × 1 =