Tips Maksimalkan Hot Calling vs Cold Calling di Sales Pipeline

Tips Maksimalkan Hot Calling vs Cold Calling di Sales Pipeline

Hot calling vs cold calling istilah umum yang kita kenal di dunia sales.

Aspek ini jadi penentu sukses atau gagalnya penjualan (closingan) setelah menghubungi calon pelanggan.

Banyak tim sales menganggap cold calling itu butuh effort dan resources lebih, sementara itu hot calling hanya butuh effort sedikit dan sudah pasti closing.

Apakah memang demikian kenyataannya?

Nah di artikel CRM.id ini membahas tentang perbandingan antara hot calling vs cold calling.

Contoh penerapan, strateginya, dan peran CRM untuk memaksimalkan hot dan cold calling.

Karena keduanya punya fungsi, strategi, risiko, dan konteks penggunaan yang berbeda, terutama berkaitan dengan lead management dan CRM.

Artikel ini ditujukan untuk sales, sales manager, business owner, dan tim marketing yang ingin meningkatkan kualitas lead dan efisiensi proses penjualan.

Konsep Dasar Hot Calling vs Cold Calling

Konsep Dasar Hot Calling vs Cold Calling

Hot calling adalah teknik direct selling untuk menghubungi leads/prospek yang sudah memiliki ketertarikan dan ada interaksi sebelumnya dengan bisnis Anda.

Prospek sudah lebih siap ketika diajak komunikasi lebih lanjut dan bersedia menerima penawaran produk.

Contoh hot calling:

  • Follow up lead dari form website
  • Menghubungi calon pelanggan yang ingin demo aplikasi
  • Meminta berbicara via telepon setelah dari chat WhatsApp
  • Follow up peserta webinar yang antusias bertanya selama webinar
  • Menghubungi lead yang diperoleh dari hasil campaign ads

Hot calling dilakukan ketika dalam kondisi prospek sudah aware dengan brand Anda dan ada kebutuhan yang kuat.

Ciri-ciri Hot Calling

Ciri-ciri dari hot calling yakni:

  1. Prospek sudah mengenal brand Anda
  2. Ada interaksi atau trigger sebelumnya dari teknik lain, entah itu cold calling atau warm calling
  3. Tingkat penerimaan lebih tinggi
  4. Percakapan lebih natural, karena Anda tidak perlu lagi memperkenalkan produk secara berlebihan
  5. Fokus ke solusi dan closing

Tapi perlu Anda ingat, kalau hot calling itu bukan berarti langsung berjualan secara agresif. Biar bagaimanapun, jangan perlakukan prospek ini hanya jadi objek saja.

Sebaiknya tetap terapkan memberikan value dan manfaat dengan cara mempermudah proses penjualan.

Terus apa saja kepuasan yang akan mereka dapat setelah membeli produk Anda, sesuaikan kebutuhan dan atasi komplainnya.

Baca Juga: Sales Pipeline: Pengertian, Tahapan, dan Cara Membuatnya

Cold calling adalah teknik direct selling untuk menghubungi calon pelanggan yang belum memiliki minat dan interaksi sebelumnya dengan bisnis Anda.

Mereka belum kenal dengan brand Anda, belum meminta untuk dihubungi, dan belum membutuhkan produk Anda saat ini.

Contoh situasi cold calling ketika menghubungi nomor dari database secara acak, menghubungi perusahaan yang belum pernah berinteraksi sebelumnya.

Hal itu karena tidak ada konteks hubungan sebelumnya dan bisa dianggap cukup mengganggu, sehingga tingkat penolakan lebih tinggi.

Tapi harus menggunakan strategi yang tepat.

Ciri-ciri Cold Calling

Beberapa ciri-ciri cold calling, yaitu:

  1. Prospek belum mengenal brand Anda
  2. Belum ada interaksi sebelumnya
  3. Tingkat resistensi tinggi
  4. Butuh opening hook yang sangat kuat
  5. Fokus utamanya untuk eksplorasi dan validasi kebutuhan

Cold calling fokusnya untuk memancing komunikasi dan percakapan lanjutan, menguji kecocokan pasar, dan menentukan apakah calon prospek akan diproses lebih lanjut atau tidak.

Jadi jangan langsung fokus pada penjualan langsung, mereka pasti langsung skeptis dan resisten.

Di pikirannya pasti seperti ini “Siapa kamu tiba-tiba nawarin, tidak kenal, tidak ada hujan, tidak ada angin”, jadinya mereka terganggu dan risih.

Baca Juga: Mengenal 10 Strategi Prospecting yang Efektif Dalam Sales

Perbandingan Hot Calling dan Cold Calling

Perbandingan Hot Calling vs Cold Calling

Dari penjelasan sebelumnya, kita sudah ada gambaran cukup jelas antara hot calling vs cold calling.

Nah tabel berikut ini menjelaskan beberapa perbedaan antara hot dan cold calling.

Tabel Perbedaan Hot Calling vs Cold Calling

KomponenCold CallingHot Calling
Status leadBelum kenal brand dan produkSudah tertarik (kuat) pada produk yang ditawarkan
Adanya interaksiTidak adaSudah ada, bisa jadi sudah beberapa kali
Tingkat resistensi (penolakan)Tinggi, belum kenal apapunRendah, karena sudah lama tahu dan sering berinteraksi
Fokus InteraksiLebih ke eksplorasi, cenderung masih di funnel atasSudah berfokus pada solusi, closing dan transaksional
Tingkat konversiRendah sampai sedangSedang ke tinggi
Waktu closingLebih lama, karena memulai journey dari awalLebih cepat, karena sudah melewati touchpoint journey
Alokasi resources (effort, waktu, biaya)Tinggi. Soalnya perlu biaya untuk brand awareness. Kalau yg organik waktunya lama, terus sering mendapat penolakanRendah hingga sedang. Karena yang lebih banyak dibutuhkan adalah follow up dan memberikan penawaran menarik (misal: gratis langganan untuk sekian pendaftar pertama)

Baca Juga: Apa itu Prospek? Bedanya dengan Lead, Kontak, dan Peluang

Kelebihan dan Kekurangan Hot Calling vs Cold Calling

Kelebihan Hot Calling

Ada beberapa kelebihan hot calling, misalnya:

1. Tingkat Konversi/Closing Lebih Tinggi

Karena prospek sudah tertarik, aware, dan melihat penawaran Anda sudah sesuai dengan kebutuhan dan masalah mereka.

Di hot calling yang akan terjadi adalah, prospek meminta untuk demo aplikasi atau menjadwalkan meeting dengan tim sales Anda.

Jika mereka mendapatkan validasi di produk Anda, mereka pasti akan closing lebih cepat tanpa ragu.

2. Interaksi Sudah Lebih Mengalir dan Natural

Hal itu karena sales sudah tidak terlalu ribet dengan urusan opening, harus lagi menjelaskan dari awal, dan tidak perlu meyakinkan dari nol.

Cukup treatment sedikit saja, dengan penyesuaian fitur produk yang menjawab masalahnya.

3. Efisiensi Waktu

Karena prospek Anda sudah ingin beli langsung, jadi Anda tidak perlu repot menjelaskannya dari awal lagi.

Cukup menambahkan beberapa informasi yang belum diketahui mereka, jadinya lebih hemat waktu dan tenaga.

Kelebihan Cold Calling

Nah sekarang kita bahas kelebihan untuk cold calling. Kelebihannya yaitu:

1. Menjangkau Pasar Lebih Luas

Cold calling memungkinkan tim sales untuk menemukan prospek baru (menjangkau lebih luas), memasuki market yang belum tersentuh kompetitor, dan memulai sales pipeline dari awal.

2. Cocok untuk Produk B2B dan Skala Enterprise

Hal ini karena banyak pengambil keputusan tidak terlalu aktif di digital marketing, jarang mengisi form di website, lebih cepat dan nyaman menggunakan telepon.

3. Membangun Skill dan Ketahanan Mental Sales

Beberapa skill yang berguna di cold calling adalah melatih ketahanan mental, melatih komunikasi efektif dan persuasif.

Anda sebagai sales akan menghadapi penolakan dan situasi tak terduga, serta punya skill problem solving baik ketika berhubungan dengan prospek.

Kelebihan dan Kekurangan Hot Calling vs Cold Calling

Baca Juga: Terapkan Motivasi Sales Berikut Agar Penjualan Tidak Lesu

Selain kelebihan, selanjutnya kita bahas sisi sebaliknya, yaitu kekurangan / keterbatasan dari hot calling vs cold calling.

Keterbatasan Cold

1. Tingkat Penolakan Tinggi

Sebagian besar audiens di cold calling itu tidak siap untuk dihubungi secara mendadak apalagi jika tidak tahu brandnya.

Selain itu mereka tidak ada kebutuhan saat itu dan menganggap calling sebagai gangguan.

2. Butuh Effort dan Resources Lebih

Proses cold calling itu membutuhkan banyak waktu, terus biaya juga pasti besar, effort pun juga tinggi.

Soalnya Anda harus memperkenalkan diri dan brand serta menjelaskan secara berulang dari awal.

Ditambah tidak semua calling tersebut menghasilkan prospek. Kemungkinan hanya sekian persen dari keseluruhan yang dihubungi.

3. Risiko Brand Image

Jika dilakukan dengan cara spam dan terus-menerus (mengganggu calon prospek), biasanya bisa merusak citra brand Anda dan membuat prospek malas berhubungan dengan Anda.

Keterbatasan Hot

1. Bergantung pada Kualitas Lead

Jika lead tidak disaring dengan baik, salah target, dan hanya iseng saja, otomatis hot calling tetap bisa gagal.

2. Volume Terbatas

Jumlah hot lead tidak selalu banyak terus juga bergantung pada campaign marketing.

Jadinya untuk mendapatkan lead atau prospek berkualitas jadi susah.

3. Ketidaksiapan untuk Closing dan Rawan Penolakan

Tidak semua hot lead siap beli sekarang.

Orang-orang di cold calling itu rata-rata masih belum pernah tahu brand Anda, belum pernah berinteraksi, dan belum butuh solusi yang ditawarkan.

Baca Juga: Canvasser Adalah: Pengertian, Tugas, dan Cara Kerjanya

Waktu Penggunaan Hot Calling vs Cold Calling

Waktu Penggunaan Hot Calling vs Cold Calling

Kapan Anda Perlu Menggunakan Hot Calling?

Hot calling cocok digunakan ketika ada inbound lead (tertarik dengan produk Anda dan menghubungi secara mandiri).

Mereka punya tingkat ketersediaan (availability) tinggi dan mudah ke-trigger dengan tindakan download, webinar, demo.

Hot calling sangat cocok untuk tindakan closing cepat, upselling, dan cross selling.

Kapan Anda Perlu Menggunakan Cold Calling?

Cold calling cocok digunakan untuk memulai sales pipeline dari awal, target market sulit dijangkau, orang masih belum aware dengan brand Anda, dan sales perlu eksplorasi market baru.

Cold calling akan tercapai bila ada riset kenapa mereka masih belum membutuhkan produk Anda, atau kenapa journey-nya keputus meskipun mereka sudah tahu brand Anda.

Fase ini lebih fokus ke konten penjualan yang masih bersifat edukasi daripada hard selling.

Baca Juga: Mengenal Sales Management, Jenis, dan Teknik Terbaiknya

Peran WhatsApp CRM (CRM.id) pada Keduanya

CRM (customer relationship management) cocok digunakan untuk aktivitas cold atau hot calling.

Karena beberapa fitur mendukung aktivitas calling ini, ditambah dengan manajemen komunikasi pelanggan.

Untuk fase hot calling, fungsi WhatsApp CRM adalah:

  • Jadi tahu sumber lead dari mana saja
  • Bisa melihat aktivitas prospek
  • Menentukan waktu follow up terbaik
  • Pendekatan komunikasi yang lebih personalized
  • Masuk dalam label/tag segmentasi yang siap menerima pesan broadcast

Sementara itu,

Untuk fase cold calling, fungsi WhatsApp CRM adalah:

  • Menyimpan data-data calon lead yang lebih terstruktur
  • Mencatat history panggilan, untuk kemudahan mengubah jadi lead
  • Membuat label dan tag orang-orang yang berpotensi jadi lead atau prospek
  • Menghindari duplikasi panggilan yang mengganggu mereka
  • Menyesuaikan pesan marketing atau broadcast dengan fase journey dan kebutuhannya

Seperti di CRM.id, Anda bisa melakukan pemberian label, tag, melakukan pesan broadcast dengan template yang sudah disetujui Meta Business, follow up, dan kemudahan manajemen kontak dan komunikasi.

Untuk itu Anda bisa klik gambar berikut ini untuk daftar aplikasi.

crm banner 3

Strategi Penerapan Hot dan Cold Calling

Tim sales perlu menggunakan keduanya agar punya kelebihan double dan melengkapi keterbatasannya.

Skenarionya seperti ini:

  • Cold calling untuk eksplorasi dan memulai sales pipeline dari awal, brand awareness, serta untuk menjangkau pasar baru.
  • Hot calling untuk percepat closingan, karena mereka sudah tertarik dengan produk dan layanan Anda.
  • WhatsApp CRM penghubung dan pengelola semua proses lead management dan komunikasi prospek/pelanggan.

Baca Juga: Sales Tools dan CRM App yang Perlu Dicoba di Tahun Ini

Kesimpulan

Demikian penjelasan hot calling vs cold calling memaksimalkan sales pipeline.

Keduanya bukan saling berkompetisi, tapi saling melengkapi di setiap sales journey/pipeline.

Cold calling untuk membuka peluang baru sedangkan hot calling untuk mempercepat penjualan (closingan).

Sedangkan CRM membuat keduanya bisa di manage dengan baik dan lebih efisien.

Biar bagaimanapun bisnis pasti akan bertumbuh terus, mengandalkan hot calling akan kehabisan lead/prospek.

Sedangkan kalau hanya mengandalkan cold calling akan kewalahan dan menghabiskan banyak resources.

Dengan strategi penggunaan hot calling vs cold calling, keduanya bisa digunakan untuk menjaga pipeline sales tetap lancar, meningkatkan konversi (closing), dan membangun hubungan baik ke depan.

Untuk itu Anda bisa menggunakan Aplikasi CRM (CRM.id) sehingga mudah dalam pengelolaan prospek, baik di fase hot atau cold.

Jadi yuk segera lakukan demo aplikasi atau menghubungi kontak WhatsApp berikut.

Ainur Rohman

Tinggalkan Komentar

19 + 19 =