Product development atau pengembangan produk di dunia bisnis perannya sangat penting, dan masuk dalam salah satu pilar keberhasilan aktivitasnya.
Scope pengembangan produk dari menciptakan produk, services, atau proses baru atau meningkatkan yang sudah ada.
Beberapa bisnis sering mengalami kolaps atau rugi karena mereka terus memproduksi tapi tidak memperhatikan kebutuhan konsumen yang berubah.
Product development itu memastikan kelancaran dari tahap ide/konsep sampai product jadi dan siap dipasarkan (go-to market).
Dari sini kita bertanya, lalu seperti apa sebenarnya detail proses, tujuan, dan strategi product development di dunia bisnis saat ini? Lalu apa untungnya untuk bisnis Anda?

Di artikel CRM.id ini, kami akan membahasnya lebih detail.
Anda bisa ambil inspirasi dan menerapkan kerangka kerja (framework) ini untuk berbagai kebutuhan bisnis.
Membedah Apa Itu Product Development?
Product development (pengembangan produk) adalah proses mulai dari penciptaan ide (ideation), design, eksekusi sampai launching produk di pasar (go to market).
Pengembangan yang dilakukan bisa berupa produk baru atau meningkatkan fitur/spesifikasi pada product, service, proses yang sudah ada.
Seperti yang CRM.id dan Anda ketahui, saat ini, bidang ini juga mencakup strategi bisnis yang menggabungkan berbagai interdisiplin bidang.
Bidang tersebut yaitu psikologi konsumen, rekayasa teknologi (engineering/tech), desain UI/UX, quality testing, dan marketing.
Dengan artian, product development mencakup kerjasama dari orang-orang berbagai lintas divisi ini.
Dengan satu tujuan membuat pengembangan produk sukses diterima pasar dan menciptakan user experience terbaik yang tidak akan pernah mereka lupakan.

Tapi untuk mencapainya tidak semudah itu, bisa juga mengalami kegagalan.
Mengapa Sebagian Besar Produk Baru Gagal?
Menurut Clayton Christensen, profesor di Harvard Business School, “Ribuan (30.000) produk baru launching setiap tahun, dan kurang lebih 95% nya gagal.”
Biasanya beberapa tim mengevaluasi karena kurangnya budget marketing atau pembuatan fitur produk masih ada yang kurang.
Tapi masalahnya seringkali bukan kedua hal itu, bisa jadi penyebab kegagalannya adalah kurangnya memahami masalah users/customer.
Fitur memang keren-keren, tapi kalau customer tidak membutuhkan dan dampaknya tidak terasa saat mereka menggunakan, ya percuma saja.
Maka dari itu, beberapa metode pengembangan produk saat ini justru lebih menekankan pada empati pelanggan daripada fitur atau spesifikasi saja.
Baca Juga: Business Development: Manfaat dan Cara Membuat Rencananya
Memahami Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle)
Strategi product development tidak berhenti setelah launching produk.
Karena setelah launching masih ada proses selanjutnya, seperti apakah produknya berhasil menarik customer baru, masih akan terus diminati kah, bisa mempertahankan customer lama, dan sebagainya.
Proses product development akan terus berulang-ulang (product life cycle). Untuk itu Anda harus terus melakukan continuous improvement.
Oke, sekarang CRM.id akan bahas lebih detail apa saja proses-proses yang ada di product life cycle.
Proses ini mengacu pada beberapa referensi di product management, antara lain The Lean Startup karya Eric Ries dan INSPIRED: How to Create Tech Products Customers Love karya Marty Cagan.

Fase Awal (Introduction)
Proses awal dari product development adalah saat produk baru masuk ke pasar.
Fokus utamanya adalah edukasi konsumen dan membangun brand awareness.
Di tahap ini margin keuntungan seringkali negatif (rugi) atau kecil karena tingginya biaya riset dan marketing (bakar uang) untuk akuisisi pelanggan.
Fase Pertumbuhan (Growth)
Di fase growth, pasar mulai menerima produk dan sudah ada customer yang menggunakan product Anda.
Skala ekonomi mulai tercapai, biaya produksi menurun, dan keuntungan sudah mulai terasa manfaatnya, meskipun ada juga beberapa perusahaan yang masih merugi.
Hal itu biasanya karena level kompetitifnya tinggi (persaingan agresif dari kompetitor).
Fokus di growth phase adalah terus meningkatkan pelanggan, penyempurnaan fitur/spesifikasi, dan ekspansi pangsa pasar (market share).
Fase Kematangan/Stabil (Maturity)
Di tahap ini jumlah customer sudah sangat banyak, growth sudah cenderung stabil di atas threshold (ambang batas) target year on year (YoY).
Persaingan harga juga semakin ketat dari sebelumnya. Ada persaingan kompetitor yang existing atau kompetitor baru dengan ide dan produk yang lebih segar.
Di tahap inilah product development kembali berperan penting untuk menciptakan fitur baru, melalui proses perulangan yang namanya iterasi.
Tujuannya memperpanjang umur produk dan menghindari persaingan dari kompetitor yang mulai merebut ceruk pasar Anda.
Fase Penurunan (Decline)
Di fase ini pasar dan konsumen sudah mulai jenuh dengan produk atau fitur yang Anda tawarkan.
Mereka sudah mencari alternatif baru dan mungkin sudah ada yang beralih ke kompetitor.
Biasanya juga ingin merasakan experience dan inovasi yang lebih baru.
Di fase ini sebuah bisnis akan memutuskan apakah akan tetap mempertahankan sisa keuntungan (harvesting) atau melakukan pivot.
Apakah sebuah bisnis akan bisa menanjak lagi (growth) atau justru akan bangkut (collapse).
Jika berhasil, maka Anda akan menjadi penguasa pasar di produk yang Anda ciptakan, tapi kalau tidak akan tergerus dan mati total.
Contoh kasusnya seperti kasus Nokia, BlackBerry (BBM), MySpace, Friendster, dan produk-produk yang sudah hilang atau pivot saat ini.
Baca Juga: Manajemen Perubahan: 10 Tips Sukses Menerapkannya
Tahapan-tahapan dalam Proses Product Development
Meskipun setiap perusahaan memiliki culture-nya sendiri-sendiri, proses product developmentnya biasanya tetap mengikuti framework berikut, agar meminimalisir risiko kegagalan.
A. Ideation Berbasis Jobs to be Done (JTBD)
Metode brainstorming tradisional seringkali menghasilkan ide yang bias, seperti pembelian yang membutuhkan produk, padahal sebenarnya lebih ke fungsi itu sendiri.
Pendekatan yang jauh lebih tepat adalah framework Jobs to be Done (JTBD) dan cukup populer di kalangan product manager/developer.
Teori ini menyatakan kalau konsumen tidak membeli produk, tapi lebih melihat fungsi atau kegunaan produk dalam menyelesaikan masalahnya.
Contohnya, ada orang yang membeli atau langganan product software CRM (customer relationship management) seperti CRM.id, bukan karena membeli produknya.
Tapi lebih karena CRM.id bisa menyelesaikan masalah mereka seperti manajemen kontak, leads, broadcast pesan tanpa terblokir.
Penggunaannya bisa banyak agen dalam satu nomor dan menyatukan banyak nomor dalam satu dashboard.

B. Riset Pasar/Users dan Validasi Asumsi (Validation)
Setelah ide terkumpul, tahap berikutnya menyeleksi beberapa ide, mengelompokkan, dan memprioritaskan berdasarkan effort-impact.
Riset pasar atau customer research saat ini tidak lagi terbatas di focus group discussion (FGD), tim produk menggunakan beberapa pendekatan, seperti:
1. Analisis sentimen, yaitu menambang data dari media sosial dan review kompetitor.
2. Membuat prototyping landing page, yaitu halaman (page) penawaran produk sebelum produk tersebut benar-benar ada.
Tujuannya melihat penerimaan market/customer sekaligus validasi ide. Anda bisa melihat berapa banyak orang yang bersedia membeli atau menginputkan email mereka.
C. Memakai Pengembangan Minimum Viable Product (MVP)
Minimum Viable Product (MVP) adalah salah satu konsep yang sangat populer di kalangan founder startup.
Konsep ini dipopulerkan oleh Eric Ries pada tahun 2011 dalam bukunya The Lean Startup.
MVP adalah versi produk yang memiliki fitur paling dasar, yang bisa memberikan value kepada pengguna awal (early adopters).
Misalnya ada login dan daftar, ada menu, manajemen kontak (tambah, edit, hapus) untuk aplikasi CRM, dan lain sebagainya.
Beberapa orang dan praktisi menyebut kalau MVP itu adalah produk yang sifatnya terbilang setengah matang kemudian dilempar ke pasar.
Tujuannya adalah untuk mendapat feedback dan validasi dari customer, apa yang sudah bagus dan yang masih perlu perlu ditingkatkan.
Setelah itu lakukan iterasi di fase pengembangan selanjutnya, begitu seterusnya sampai product benar-benar matang dan diterima sepenuhnya oleh pasar.
Kalau menunggu sampai semua perfect, kelamaan dan buang-buang resources juga.
Bisa jadi saat sudah “terasa” perfect dan launch ke market, justru users sudah tidak membutuhkannya dan tertarik lagi.
D. Prototyping dan Pengujian ke Pengguna
Sebelum memasuki produksi besar-besaran atau improvement berikutnya, produk dibuat dalam bentuk prototipe (atau sampel).
Prototipe bisa berupa desain wireframe atau mockup aplikasi atau model cetak 3D untuk yang sifatnya produk fisik.
Kemudian customer uji coba menggunakan prototipe, tim mencatat setiap progress atau kesulitan yang mereka alami selama berinteraksi dengan prototipe.
Baca Juga: 7 Tahapan Perancangan Produk yang Efektif
Metodologi Product Development (Waterfall vs Agile)
Kalau kita berbicara masalah product development, tidak afdol rasanya kalau tidak membalas metodenya.
Metodologi yang banyak praktisi gunakan di lapangan bervariasi, tapi secara umum terdapat dua yaitu metode waterfall dan metode agile.
Tabel Perbandingan Metode Waterfall dan Agile
| Kriteria | Metodologi Waterfall (Tradisional) | Metodologi Agile (Modern) |
|---|---|---|
| Proses | Linier dan berurutan | Iterasi dan fleksibel |
| Dokumentasi | Sangat ketat di awal sebelum pengerjaan | Ringkas dan menyesuaikan seiring berjalannya waktu (ada perubahan di tengah-tengah proses tidak jadi masalah) |
| Keterlibatan Klien/Tim | Di awal (persyaratan) dan di akhir (serah terima), tim yang terlibat cuma di satu fase saja | Berkelanjutan di setiap akhir sprint (siklus) ada evaluasi (sprint retrospective), komunikasi tim jadi fokusnya (makanya ada daily sprint) |
| Adaptasi Perubahan (Adaptif) | Sangat kaku. Perubahan memakan biaya besar dan harus merombak total prosesnya | Sangat responsif. Perubahan adalah hal yang biasa dan berfungsi sebagai added value |
| Case Study | Manufaktur, konstruksi, dan infrastruktur | Industri software, aplikasi, layanan digital, startup, dan sejenisnya |
Di tahun 2026, Agile development jadi standar de facto untuk mayoritas pengembangan produk.
Hal itu karena kemampuannya dalam adaptasi, fleksibilitas perubahan, dan pemenuhan tuntutan pasar yang sangat cepat.
Tertinggal sedikit saja, gap dengan kompetitor bisa sangat jauh.
Misalnya dengan metode agile, Anda bisa merilis fitur baru setiap satu atau dua minggu sekali.
Baca Juga: Growth Hacking: Dari Framework, Teknik, Hingga Strategi
Merancang Strategi Pasca Product Development (Go To Market (GTM) Strategy)

Product sebagus apapun tidak akan ada artinya jika tidak ada yang mengetahuinya.
Untuk itu product development harus berjalan beriringan dengan penyusunan strategi launching ke market atau Go To Market strategy.
Strategi Go To Market (GTM) adalah rencana yang merinci cara mempromosikan hasil product development ke audiens agar bisa bersaing dengan kompetitor dan mendapatkan keuntungan
Elemen kunci dari GTM ada berbagai macam, tapi CRM.id mengambil 3 komponen terpentingnya, meliputi:
- Pricing Strategy (Strategi Harga). Apakah Anda akan menggunakan model freemium, langganan (subscription), lifetime subscription, ads (iklan), atau bakar uang (burn money)?
- Distribution Channels (Saluran Distribusi). Apakah produk dijual langsung ke konsumen (D2C), melalui pengecer pihak ketiga, mitra B2B, atau digital marketing channel (SEO, media sosial, website, iklan).
- Positioning dan Messaging. Bagaimana produk Anda ingin dipersepsikan di konsumen daripada alternatif lain (kompetitor) di pasar.
Baca Juga: Strategi Product Marketing yang Bisa Meningkatkan Closing
Tantangan dan Cara Mengatasi Risiko Kegagalan Product Development
Sekalipun Anda sudah menerapkan best practice penggunaan metode-metode yang ada, proses product development akan selalu ada trade-off dan tantangannya tersendiri.
Berikut masalah yang paling sering terjadi dan beberapa solusi yang CRM.id tawarkan:
1. Scope Creep (Pelebaran Ruang Lingkup)
Masalah ini terjadi karena ada request dari tim, mitra, klien, atau customer yang tidak termanage dengan baik batasan fitur yang dikerjakan.
Karena terlalu terlena menambahkan fitur “keren”, tidak memperhatikan aspek resources dan kekonsistenan pada timeline pengerjaan, akibatnya proyek lebih molor dan budget jadi membengkak.
Solusinya, harus stay tuned atau disiplin saat mengambil setiap keputusan dan memastikan berjalan sesuai dengan budget dan waktu yang disepakati.
Jika ada penambahan, waktu, budget, atau human resources harus ditambah (jadi pertimbangan). Selain itu harus memprioritaskan fitur berdasarkan impact vs effortnya.
2. Ada Gap Komunikasi Antar Departemen
Tim developer/engineering/produksi tidak berkomunikasi intens dengan tim marketer atau market researcher.
Sehingga masing-masing tim tidak mengetahui progress yang dikerjakan dan seberapa possible untuk tetap stay on the track
Solusinya bentuk tim lintas departemen (cross-functional team) sejak dari pertama akan membangun product.
Pastikan ada planning yang jelas (waktu, budget, manpower yang bertanggung jawab tiap tugas).
Anda juga bisa lakukan meeting harian, mingguan, dan bulanan untuk menyelaraskan kembali pekerjaan, problem, progress, dan apa yang akan dikerjakan.
3. Mengabaikan Technical Debt
Bergerak terlalu cepat dan langsung develop kode/sistem yang berantakan demi mengejar launching itu berbahaya, terjadi gap, rawan bug, dan flow aplikasinya berantakan.
Untuk itu solusi yang bisa Anda kerjakan adalah alokasikan minimal 20% waktu dalam setiap sprint khusus untuk memperbaiki dan mengoptimalkan infrastruktur sistem.
Baca Juga: 10 Kesalahan yang Sering Dilakukan oleh Supervisor Baru
Kemudahan Proses Product Development Menggunakan Aplikasi CRM

Di product development, peran CRM punya keterkaitan untuk meriset langsung kebutuhan customer untuk jadi bahan pengembangan fitur produk.
CRM sebagai penyedia atau pusat data punya peran-peran berikut dalam product development:
1. Mengumpulkan Insight Tentang Pelanggan (Customer Insight)
CRM membantu tim produk untuk menyediakan data tentang preferensi, keluhan, dan perilaku pelanggan secara langsung.
Data yang dikelola ini sebagai bahan feedback untuk pengembangan fitur di iterasi berikutnya. Jadinya Anda tidak perlu lagi berasumsi, langsung tervalidasi.
2. Membaca Tren dan Peluang
Dengan menganalisis data history chat, tim produk dengan bantuan CS / CRM specialist bisa mengenali perilaku customer untuk mengembangkan fitur produk baru atau meningkatkan produk yang sudah ada.
3. Validasi Kebutuhan Produk
CRM menyediakan data yang bantu memastikan perancangan produk benar-benar memecahkan masalah customer.
4. Pengembangan Berbasis Data (Data-Driven Development)
Data dari CRM juga membantu dalam hal pengambilan keputusan berbasis data.
Anda tidak lagi berdasar pada asumsi, sehingga yang terjadi terjadi peningkatan kualitas layanan dan fitur produk.
5. Support untuk Customer Life Cycle /Customer Journey
CRM sangat support di tahap akuisisi, onboarding, retensi, dan loyalitas.
Setiap proses developmentnya bisa mempertahankan kepuasan customer dalam jangka panjang.
Baca Juga: Rekomendasi Software CRM Rumah Sakit Beserta Fiturnya
Kesimpulan
Demikian artikel dari CRM.id seputar product develoMenjawab di dunia bisnis.
Dari pembahasan sebelumnya, bisa kita lihat kalau product development itu terdiri dari berbagai macam aspek,
Yaitu pengertiannya, alasan product gagal di pasar, product life cycle, tahapan-tahapan, go to market strategy, tantangan serta solusinya.
Life cycle seperti introduction, growth, maturity, dan decline. Sedangkan tahapan-tahapannya seperti ideation, design, implementasi, go-to market, dan evaluasi (improvement).
Ada juga dua metode yang sering digunakan, yaitu waterfall dan agile, dengan beberapa aspek perbandingannya, serta kesesuaian dengan product sebuah bisnis kembangkan.
Product development ternyata bukan proyek satu kali jadi dan jalan, tapi lebih ke siklus berkelanjutan (continuous improvement) sesuai feedback dari customer/pasar.
Untuk itu mindset yang harus selalu Anda tanamkan dalam pengembangan produk adalah berorientasi pada customer (customer oriented) dalam memahami problem dan kebutuhan mereka.
Salah satu tools yang bisa diterapkan adalah penggunaan Software CRM asal Yogyakarta, seperti CRM.id.
Dengan berbagai fitur m salah satunya pengelolaan data pelanggan dan dashboard grafik performa pelayanan, dan isi keluhan pelanggan.
Hal itu adalah tambang emas sebagai feedback yang bisa tim produk gunakan di iterasi fitur selanjutnya.
Anda bisa mencoba demo aplikasi CRM.id dengan mengisi form demo aplikasi CRM berikut.
Atau untuk bertanya-tanya terlebih dahulu, menghubungi kontak WhatsApp tim kami di kontak berikut.
- Apa Itu BANT? Metode & Framework Kualifikasi Lead - 8 Juni 2026
- Gimana Cara Hapus Kontak di WA? Berikut Cara Simplenya - 5 Juni 2026
- 15 Lead Management Software Terbaik untuk Bisnis UKM - 3 Juni 2026