Strategi Product Marketing yang Bisa Meningkatkan Closing

Strategi Product Marketing yang Bisa Meningkatkan Closing

Produk sudah dikembangkan dengan bagus saja tidak cukup. Anda memerlukan strategi product marketing yang tepat agar fitur-fiturnya tersampaikan dengan baik ke audiens.

Dengan banyaknya kompetitor bisnis bermunculan tantangannya selain membuat produk dikenal, juga bagaimana membuat produk tersebut ada yang beli.

Banyak perusahaan atau bisnis sudah menghabiskan anggaran cukup besar untuk promosi, tapi seringkali masih susah meningkatkan penjualan (closingan).

Product marketing selain menjelaskan fitur produk, juga menjembatani antara product development dengan kebutuhan calon pelanggan.

Selain itu untuk mendukung kerja tim sales agar proses closingnya lebih tepat sasaran.

Strategi product marketing yang tepat dapat mempercepat keputusan pembelian, meningkatkan conversion rate, dan menurunkan biaya akuisisi pelanggan.

Artikel CRM.id ini akan mengulas tentang product marketing yang meningkatkan closing.

Dari framework product marketing, contoh penerapan, strategi penerapan, sampai peran CRM dalam mengoptimalkan seluruh prosesnya.

Manfaat dan Peran Product Marketing pada Peningkatan Closing

Manfaat dan Peran Product Marketing pada Peningkatan Closing

Product marketing adalah strategi yang berfokus pada bagaimana sebuah produk diposisikan, dikomunikasikan, dan dijual ke target market yang sesuai.

Berbeda dengan marketing secara umum yang sering berfokus pada traffic atau brand awareness, product marketing lebih berorientasi pada konversi dan penjualan.

Caranya berfokus menyelesaikan masalah audiens dengan menjelaskan fitur-fitur produk dan dikaitkan pada optimasi konversi.

Secara umum, product marketing menjawab tiga pertanyaan berikut:

  1. Siapa target pengguna produk ini?
  2. Masalah apa yang ingin diselesaikan menggunakan produk?
  3. Apa yang membuat calon pelanggan harus memilih produk tersebut daripada kompetitor?

Ada beberapa penyebab kenapa beberapa product sebuah bisnis gagal konversi atau closingan. 

Bukan karena produknya itu jelek, tapi ada beberapa hal yang masih belum terpenuhi (mismatch), seperti:

  • Pesan produk tidak sesuai dengan kebutuhan customer.
  • Sales tidak memahami value dari produk.
  • Calon pelanggan bingung tidak menemukan value proposition produk daripada kompetitor.
  • Tidak ada urgensi untuk membeli sekarang.
  • Tidak menggunakan data untuk dasar product marketingnya.

Product marketing yang baik membuat sales bisa menyederhanakan value produk, membuat calon pelanggan merasa kalau product itu adalah solusi yang tepat untuknya.

Selain itu untuk mengurangi keraguan sebelum membeli dan mempercepat proses decision making.

Dengan kata lain, closing yang tinggi adalah hasil dari perencanaan dan eksekusi product marketing yang baik.

Baca Juga: Apa Itu Closing Rate dan Cara Menghitungnya (+Rumus)

Perbedaan Product Marketing vs Sales Marketing dan Hubungan dengan Customer Journey

Beberapa sales dan business owner masih menyamakan product marketing dengan sales marketing.

Sebenarnya keduanya punya peran berbeda yang saling melengkapi satu sama lain.

Berikut ini kami sajikan perbedaan keduanya menggunakan tabel.

Bagian/Dari SegiProduct MarketingSales Marketing
FokusValue dan positioning produkPenawaran dan closing
TargetMarket dan customer personaLead dan prospek
OutputMessaging, use case, dan positioningDeal dan revenue
Peran utamaMembuat produk lebih mudah dijualMenjual produk

Jika product marketing tidak kuat, tim sales akan kesulitan menjelaskan value produk dan salah mengambil keputusan seperti mengandalkan diskon besar demi closing.

Strategi product marketing yang tepat tidak terbatas pada tahap pembelian tapi mengikuti customer journey.

Tahapan customer journey:

  1. Fase awareness
  2. Fase consideration
  3. Decision phase
  4. Purchase phase
  5. Dan fase retention

Product marketing hampir terlibat di semua proses, termasuk pada fase awareness.

Selain itu di fase consideration untuk membantu customer memahami solusi.

Fase decision untuk menghilangkan keraguan dan memperkuat keputusan pembelian.

Serta purchase untuk membantu saat closing atau pembelian terjadi.

Apabila product marketing hanya difokuskan pada fase awareness, maka closing tidak akan berjalan dengan baik, yang Anda lihat hanyalah vanity metrics.

Baca Juga: Perbedaan Sales dan Marketing yang Harus Anda Ketahui

Strategi Product Marketing yang Terbukti Meningkatkan Closing

Strategi Product Marketing yang Terbukti Meningkatkan Closing

Ada beberapa strategi product marketing yang bisa Anda coba untuk meningkatkan closingan.

Strategi tersebut meliputi:

1. Memahami Customer Persona

Closing tinggi hanya terjadi ketika pesan produk sangat sesuai dengan target audiens (customer persona).

Langkah-langkahnya sebagai berikut:

  • Mengelompokkan persona berdasarkan segmentasi demografi, psikografis, firmografi, dan perilakunya
  • Coba pahami pain point, keinginan, dan kebutuhan mereka
  • Ketahui tujuan bisnis mereka itu apa
  • Pelajari keberatan/complaint yang sering di post
  • Mereka aktif di channel marketing apa saja

Misalnya:

Product WhatsApp CRM untuk pebisnis UKM (usaha kecil dan menengah) seperti CRM.id tidak terlalu menonjolkan fitur-fitur kompleks.

Tapi lebih fokus pada kemudahan penggunaan (user experience yang clean and sleek) dan peningkatan respon WhatsApp.

CRM.id punya peran karena mampu menyimpan:

  • Riwayat interaksi pelanggan
  • Pemberian label dan tagging berdasarkan segmentasi audiens
  • Terdapat dashboard dan grafik data kontak customer

2. Menentukan Value Proposition yang Jelas dan Spesifik

Value proposition harus jelas dan spesifik. Tujuannya pasti untuk membedakan dari kompetitor dan jadi top of mind di calon audiens.

Jika tidak bisa menyebabkan kegagalan closing.

Untuk itu coba hindari hanya menggunakan narasi seperti: “Solusi terbaik untuk bisnis Anda” atau “Platform all in one”.

Sebaliknya coba gunakan value proposition yang jauh lebih spesifik, menonjolkan value dan manfaat, serta berorientasi pada efisiensi alur kerja bisnis.

Contoh:

“Aplikasi CRM.id membantu tim sales lebih banyak deal dengan prospek lewat WhatsApp dalam waktu lebih singkat.”

atau

“Aplikasi CRM.id membuat kerja customer service lebih rapi dan terjadi peningkatan kecepatan respon atau kecakapan menyelesaikan komplain.”

Semakin jelas value proposition dari produk itu, semakin kecil resistensi calon pembeli dan tidak butuh effort berlebih.

Baca Juga: Unique Selling Proposition (USP): Pengertian dan Contohnya

3. Penekanan Value (Manfaat) yang Kuat dari Fitur

Strategi product marketing yang baik adalah lebih berfokus menonjolkan value atau manfaatnya daripada hanya fokus pada fitur.

Tabel berikut ini perbedaan fokus antara product marketing yang berfokus ke fitur dan ke value/manfaat.

FiturValue/Manfaat
Multi agent chatSales atau customer service mudah melayani pelanggan meskipun chat banyak dan lebih fast response
Chat dengan label dan tagChat menjadi lebih terorganisir dan mudah saat follow up
Dashboard dan grafikKemudahan pengambilan keputusan berbasis data

Kalau istilah yang populer di kalangan praktisi, calon pelanggan itu tidak membeli fitur, mereka membeli value atau manfaat melalui fitur.

Product marketing yang kuat selalu menerjemahkan fitur menjadi beberapa hal seperti efisiensi waktu, penghematan biaya, dan peningkatan revenue.

4. Positioning Produk yang Tepat di Pasar

Positioning menentukan bagaimana produk Anda diingat oleh audiens.

Contoh positioning itu seperti:

  • Aplikasi CRM paling mudah untuk UMKM.
  • WhatsApp CRM untuk kemudahan sales pipeline di tim sales.
  • CRM yang fokus closing, bukan hanya bergantung pada vanity metrics.

Positioning yang tepat membuat produk Anda lebih mudah dipahami oleh calon pelanggan, closing lebih cepat, dan kompetisi harga jauh lebih berkurang.

5. Menyamakan Alur Kerja Product Marketing dengan Tim Sales

Product marketing itu akan berjalan dengan baik jika terjadi kerja sama/kolaborasi dengan berbagai tim, misalnya dengan tim sales.

Saat nge-plan dan yang perlu dipersiapkan yaitu sales deck menggunakan use case, template penawaran produk, dan FAQ handling komplain.

CRM bisa membantu menyelaraskan dengan menyimpan materi sales, tracking performa penjualan, dan melihat keluhan/komplain yang paling sering muncul.

Menyamakan Alur Kerja Product Marketing dengan Tim Sales

6. Menggunakan Social Proof untuk Peningkatan Kepercayaan

Kepercayaan adalah hal penting agar mudah dalam closingan. Untuk itu Anda membutuhkan social proof.

Bentuk-bentuk social proof itu seperti testimoni pelanggan, studi kasus, logo klien, mitra, atau partner, serta review dari beberapa pengguna.

Sehingga akan mengurangi keraguan, mempercepat keputusan pembelian, dan peningkatan conversion rate.

7. Menyederhanakan Proses Pembelian/Penjualan

Ada satu hal lagi yang perlu marketer dan sales perhatikan, calon pelanggan itu tidak suka dengan alur pembelian (workflow) yang panjang dan ribet.

Untuk itu ketika akan merencanakan dan mengeksekusi product marketing sebaiknya sederhanakan flownya hanya sampai beberapa langkah saja.

Contohnya, Anda harus memastikan kalau:

  • CTA nya sudah jelas, memudahkan action selanjutnya setelah melihat campaign Anda
  • Flow demo simple dan follow upnya cepat
  • Harga pricing harus jelas, transparan, dan tidak boleh ambigu

Aplikasi CRM berperan untuk otomatisasi follow up, reminder tim sales, dan tracking status lead/prospek.

Baca Juga: Sales Pipeline: Pengertian, Tahapan, dan Cara Membuatnya

8. Menciptakan Kesan Urgensi yang Tepat

Dengan menggunakan urgensi yang tepat bisa menarik calon pelanggan dengan sifat FOMO (fear of missing out) tinggi.

Karena memberikan semacam tekanan atau pressure secara halus, jika tidak segera membeli maka akan kehabisan.

Contoh urgensi yang bisa Anda coba, seperti [ bonus onboarding terbatas ], [ harga promo periode tertentu ], [ barang dengan stok terbatas ].

Meski demikian, urgensi harus make sense (logis), relevan dengan value produk, dan tidak berlebihan.

9. Optimasi Product Marketing Menggunakan Data (Data-driven)

Untuk mengoptimalkan eksekusi product marketing biasanya selalu berbasis data.

Ada beberapa data yang perlu dianalisis, seperti conversion rate tiap channel, tahap funnel paling banyak drop (audiens tidak melanjutkan customer journey).

Terus objection (komplain) paling sering itu apa saja dan waktu closing rata-rata.

Aplikasi CRM memberikan kemudahan analisis hal itu secara real time (langsung) sehingga Anda mudah menyusun strateginya.

10. Menggunakan Personalisasi Penawaran Lewat Broadcast Pesan di CRM

Calon pelanggan, audiens yang sedikit berinteraksi dengan Anda, apalagi yang belum pernah berinteraksi tidak suka penawaran yang langsung hard selling.

Jika penawaran lebih mengesankan secara emosional, punya storytelling (behind the scene dari produk), dan personalized.

Ada beberapa contoh personalisasi yang bisa Anda coba, seperti: 

  • Menyebut nama bisnis prospek
  • Menyesuaikan use case
  • Menawarkan paket sesuai kebutuhan

CRM membantu dalam hal segmentasi pelanggan, melihat catatan/riwayat komunikasi, dan selera customer.

crm banner 1

Baca Juga: Iklan Penawaran: Ini Cara Membuat dan Contohnya

Peran Aplikasi WhatsApp CRM (CRM.id) di Product Marketing

CRM selain tools untuk sales dan customer service, juga bisa dimanfaatkan untuk memaksimalkan potensi product marketing.

Ada beberapa fungsi CRM di product marketing:

  • Mengelola data customer (kontak dan pesan)
  • Mengukur efektivitas pesan melalui response rate dari orang yang menerima broadcast
  • Melakukan segmentasi kontak dan chat menggunakan fitur label atau tag
  • Pemantauan kinerja tim sales dan customer service
  • Transfer chat ke admin lain tanpa kehilangan history chat.
Aplikasi WhatsApp CRM (CRM.id)

Baca Juga: Contoh WhatsApp Marketing Software untuk Bisnis Makanan

Kesimpulan

Begitulan penjelasan strategi product marketing yang meningkatkan closing.

Dengan menerapkan strategi ini, membuat tim Anda bisa memahami customer dan kebiasaan mereka.

Menyampaikan value yang relevan, menyederhanakan keputusan pembelian, support tim dengan data dan tools yang tepat.

Menerapkan product marketing yang rapi menggunakan aplikasi CRM, Anda bisa meningkatkan conversion rate, mempercepat closing, dan membina hubungan baik dengan pelanggan.

Jika seperti itu fokus Anda, maka kami menyarankan CRM.ID sebagai salah satu tools menjalankan strategi product marketing yang perlu Anda coba.

Aplikasi CRM berbasis WhatsApp Business API ini menyediakan unlimited pesan, montly active users, dan multi agent dengan harga Rp 40/pesan.

Anda bisa langsung mencoba semua kelebihan CRM.ID dengan tampilan minimalis ini, caranya anda bisa lakukan demo aplikasi di tautan berikut.

Setelah Anda mengisi form demo, tim kami akan menghubungi Anda dan menjadwalkan 1-on-1 meeting.

Anda juga bisa menghubungi kontak WhatsApp kami, jika ingin bertanya lebih lanjut sebelum mencoba demo.

Jadi tunggu apa lagi? rasakan manfaat penggunaannya dan perbanyak jumlah closingan Anda.

Ainur Rohman

Tinggalkan Komentar

8 + twenty =