Supplier Relationship Management & Hubungannya dengan CRM

Supplier Relationship Management & Hubungannya dengan CRM

Selama beberapa tahun terakhir, kami menemukan banyak pemilik bisnis mengira kalau penyelesaian supplier relationship management cukup dengan grup WhatsApp dan spreadsheet Excel yang rapi.

Padahal saat jumlah pemasok bertambah dan negosiasi jadi lebih rumit, cara manual seperti itu membuat stok telat datang, harga tidak sama, dan komunikasi penting tenggelam oleh chat yang tidak penting.

Untuk membahas lebih detail apa itu supplier relationship management dan apa hubungannya dengan software CRM yang selama ini identik dengan urusan pelanggan, kami sajikan pada artikel CRM.id ini.

Serta kenapa dua konsep atau strategi ini sebenarnya saling mendukung, bukan saling menggantikan.

Apa Itu Supplier Relationship Management (SRM)?

crm banner 1

Supplier relationship management adalah pendekatan yang perusahaan pakai untuk menilai, mengembangkan, dan mengelola interaksi dengan para pemasok barang (supplier) atau jasa.

Mulai dari proses seleksi awal, negosiasi kontrak, evaluasi kinerja, sampai kolaborasi jangka panjang.

Wikipedia mendefinisikan SRM sebagai penilaian menyeluruh pada kekuatan, performa, dan kapabilitas pemasok yang dikaitkan dengan strategi bisnis perusahaan secara keseluruhan.

SRM memastikan setiap supplier, terutama yang berstatus strategis mendapatkan perlakuan sebagai mitra jangka panjang, bukan dihubungi saat stok menipis.

Forkmann dan rekannya menegaskan kalau SRM adalah upaya menyelaraskan sumber daya perusahaan dengan lingkungan bisnis yang terus berubah, lebih dari hanya menjaga hubungan baik semata.

Beberapa aktivitas yang biasanya masuk dalam praktik supplier relationship management antara lain:

  1. Segmentasi pemasok berdasarkan value dan risiko
  2. Negosiasi dan penyusunan kontrak yang jelas, termasuk SLA dan KPI
  3. Pemantauan kinerja supplier secara berkelanjutan
  4. Manajemen risiko rantai pasok
  5. Kolaborasi untuk inovasi produk atau efisiensi biaya

Baca Juga: 7 Alasan Penting Relationship Management pada Bisnis

Apa Perbedaan Antara SRM dengan CRM?

Beberapa orang masih bingung dan menyamakan SRM dengan CRM, sebab secara struktur keduanya memang mirip.

TechTarget menyebut SRM sebagai cerminan dari cara kerja customer relationship management, hanya saja arah interaksinya dibalik.

Kalau CRM mengelola hubungan perusahaan dengan pelanggan di sisi hilir atau end-users (downstream), sedangkan SRM mengelola hubungan perusahaan dengan pemasok pada sisi hulu (upstream).

Perbedaannya juga ada pada tujuan, pengelolaan data, dan cara mengukur keberhasilannya.

Apa Perbedaan Antara SRM dengan CRM

Perbedaan Fokus, Data, dan Cara Kerja Supplier Relationship Management dan CRM

CRM berfokus pada bagaimana menciptakan permintaan, menjaga loyalitas pelanggan, dan mempercepat siklus penjualan.

Datanya berfokus di sekitar prospek, riwayat transaksi, preferensi pembelian, dan skor kepuasan pelanggan.

SRM justru berfokus pada memastikan permintaan yang sudah tercipta itu bisa benar-benar terpenuhi.

Fokusnya pada kapasitas produksi pemasok, riwayat ketepatan pengiriman, kualitas barang, kepatuhan terhadap kontrak, dan tingkat risiko finansial pemasok.

Analisis dari Alleon Group menyimpulkan kalau CRM membawa struktur pada sisi permintaan, tapi tidak memberi kepastian pada sisi pemenuhan pesanan.

Jadi kalau ditanya, apakah SRM sama dengan CRM? Jawabannya tidak.

Tapi apakah keduanya bisa saling tidak berhubungan satu sama lain?

Tidak juga, terutama untuk bisnis yang skala operasinya sudah melibatkan banyak supplier dan banyak pelanggan sekaligus.

Baca Juga: CRM Tools: Pengertian dan Rekomendasi Terbaiknya

Titik Temu Supplier Relationship Management dan CRM

Meskipun secara konsep SRM dan CRM berbeda tujuan.

Kenyataannya di lapangan banyak bisnis UKM sampai enterprise yang memanfaatkan software CRM untuk menjalankan praktik manajemen hubungan pemasok mereka.

Daripada membeli sistem SRM khusus yang harganya jauh lebih mahal dan penerapannya lebih rumit.

Terdapat sejumlah alasannya yaitu fitur CRM seperti penyimpanan kontak terpusat, pencatatan riwayat komunikasi seperti WhatsApp Business, pengingat otomatis.

Hingga dashboard pelaporan kinerja, fungsi inilah yang bisa dengan penyesuaian ulang untuk mengelola siklus hidup pemasok, bukan hanya pelanggan.

CRM berguna untuk menyimpan semua informasi pemasok dalam satu tempat.

Selain itu untuk mengatur indikator kinerja dalam evaluasi performa pemasok secara langsung, sekaligus memfasilitasi komunikasi yang transparan dan terpantau.

Meskipun begitu tentu ada batasnya.

Kodiak Hub, penyedia platform SRM, mengingatkan begitu kebutuhan sudah masuk audit kepatuhan, sertifikasi, manajemen risiko berlapis, dan alur onboarding pemasok yang kompleks, CRM hanya akan berfungsi sebagai solusi sementara.

Titik Temu Supplier Relationship Management dan CRM

Bagaimana Data CRM Bisa Membantu Perencanaan Kebutuhan Pemasok?

Gimana caranya data dari CRM bisa Anda pakai untuk memprediksi kebutuhan pemasok, bukan cuma menyimpan kontaknya.

Ketika tim sales mencatat lonjakan permintaan dari pelanggan di CRM, tim procurement idealnya bisa melihat sinyal itu lebih awal untuk menyesuaikan banyak pesanan ke supplier utama.

TechTarget bahkan menyebutkan bahwa tren platform saat ini mengarah ke integrasi penuh antara modul CRM, SCM, dan SRM dalam satu sistem.

Sehingga tindakan di satu modul otomatis memicu/trigger tindakan di modul lain, dan pengalaman penggunanya jadi jauh lebih efisien tanpa harus berpindah-pindah aplikasi.

SRM yang baik sebenarnya dimulai dari data permintaan pelanggan yang akurat.

Tanpa itu, perusahaan akan selalu telat menyesuaikan kapasitas pemasoknya, entah kelebihan stok yang menumpuk atau kekurangan stok saat permintaan naik.

Baca Juga: Aplikasi CRM Marketing untuk Pengelolaan Data Pelanggan

Saat Bisnis Kecil Berpindah dari Grup WhatsApp ke Sistem Terpusat (Cerita dari Lapangan)

Salah satu pola yang CRM.id temui adalah saat riset untuk customer di industri manufaktur skala kecil dan menengah.

Pemilik bisnis biasanya baru serius memikirkan supplier relationship management setelah mengalami kejadian yang merugikan mereka.

Misalnya kehabisan bahan baku di tengah pesanan besar karena lupa follow up pemasok.

Atau menemukan bahwa kesepakatan harga melalui telepon ternyata berbeda saat invoice datang.

Pola gagalnya biasanya mirip, yakni informasi penting seperti kesepakatan harga, deadline pengiriman, dan riwayat komplain kualitas tersebar di banyak tempat.

Misalnya di chat pribadi karyawan yang resign, di catatan tangan, atau hanya mengandalkan satu staff atau supervisor procurement.

Begitu prosesnya berpindah ke satu sistem terpusat, baik itu melalui pengaturan pada CRM atau modul SRM.

Biasanya baru terlihat pola supplier mana yang sebenarnya sering telat dan mana yang justru layak mendapatkan kontrak jangka panjang.

Baca Juga: Community Marketing, Cara Bangun Hubungan Jangka Panjang

4 Pilar Strategi Supplier Relationship Management dengan Support CRM

Pilar Strategi Supplier Relationship Management dengan Support CRM

Berdasarkan kombinasi riset dan praktik di lapangan, ada 4 pilar strategi supplier relationship management yang tepat dan keempatnya mendapat dukungan sistem CRM yang tepat, yakni:

1. Segmentasi Supplier Berdasarkan Nilai (Value) dan Risiko

Menggunakan segmentasi ini karena tidak semua supplie harus mendapat perlakuan yang sama.

Pemasok dengan nilai kontrak besar dan risiko tinggi (misalnya bahan baku utama yang sulit dicari penggantinya) perlu pendekatan intensif dan hubungan personal.

Sementara supplier dengan potensi yang kecil bisa Anda kelola secara transaksional lewat alur otomatis.

2. Standar Komunikasi dalam Satu Channel Terpusat

Mayoritas pelaku usaha di Indonesia masih mengandalkan WhatsApp untuk komunikasi harian dengan supplier.

Oleh karena itu menghubungkan WhatsApp Business ke aplikasi CRM membuat setiap chat, kesepakatan harga, dan konfirmasi pengiriman tercatat otomatis.

3. KPI dan Scorecard Kinerja Supplier yang Terukur

Ketepatan waktu pengiriman, kualitas barang, dan konsistensi harga perlu Anda ubah jadi persentase yang bisa termonitor lewat dashboard.

4. Kolaborasi Jangka Panjang untuk Efisiensi dan Inovasi Bersama

Supplier yang Anda ajak diskusi atau meeting lebih awal soal rencana produksi cenderung bisa menyesuaikan kapasitas lebih cepat daripada yang hanya Anda hubungi saat pesanan mendadak.

Baca Juga: Analytical CRM untuk Memahami Pola Keluhan Pelanggan

Penelitian Tentang Dampak SRM pada Kinerja Bisnis

Bukti dari SRM yang berjalan baik tidak hanya klaim marketing, dampaknya ke kinerja bisnis berdasarkan beberapa riset.

Riset McKinsey & Company menemukan bahwa perusahaan yang menjalankan SRM dengan disiplin bisa mengurangi biaya pengadaan/procurement sekitar 5 sampai 10%.

Studi di jurnal PLOS ONE tahun 2023 terhadap industri manufaktur di Tiongkok juga menunjukkan bahwa:

Keunggulan perusahaan berkorelasi positif dengan tingkat kolaborasi supply chain, memperkuat argumen kalau pengelolaan hubungan pemasok yang serius sebagai salah satu faktor daya saing.

Laporan pasar yang berjudul Supplier Relationship Management Software Global Market Report 2025, memproyeksikan pasar SRM global akan tumbuh dengan CAGR 10,3 % menuju tahun 2029, dengan adanya adopsi AI, integrasi data, dan cloud service.

Sementara riset Kodiak Hub mencatat bahwa lebih dari 75% tim procurement kini memprioritaskan hubungan yang lebih dekat dengan supplier dan tidak lagi hanya mengejar harga termurah.

Untuk konteks Indonesia, data yang relevan datang dari Kadin Indonesia tentang Data dan Statistik UMKM Indonesia menyumbang sekitar 61% PDB nasional, setara sekitar Rp 9.580 triliun, sekaligus menyerap sekitar 117 juta tenaga kerja.

Dengan skala sebesar itu, gangguan kecil pada rantai pasok UMKM sebenarnya berdampak jauh lebih luas daripada yang biasanya pemilik usaha kecil sehari-hari sadari.

Apa Saja Tantangan Penerapan Supplier Relationship Management Lewat CRM

Baca Juga: 8 Rekomendasi Software CRM Logistik Terbaik

Apa Saja Tantangan Penerapan Supplier Relationship Management Lewat CRM?

Ada beberapa challenge yang akan Anda hadapi kalau menerapkan SRM lewat CRM.

Pertama, Resistensi dari Staf yang Sudah Terbiasa Menggunakan Aplikasi WhatsApp Pribadi/Business

Perpindahan ke sistem terpusat sering menambah beban administrasi di awal, walaupun manfaatnya baru terasa setelah beberapa bulan berjalan.

Kedua, Kualitas Data yang Berantakan di Awal Migrasi

Kontak pemasok yang ganda, riwayat harga yang tidak konsisten antar cabang dan dokumen kontrak yang perlu Anda rapikan dulu sebelum input ke sistem.

Ketiga, Ketergantungan Berlebihan pada Satu Supplier Tunggal

Sehebat apapun penggunaan sistem SRM kalau perusahaan tidak melakukan diversifikasi supplier untuk komoditas kritis, risiko gangguan pasokan tetap tinggi.

Terutama di tengah ketidakpastian tarif dagang global yang terjadi belakangan ini.

Cara Memilih Software CRM yang Bisa Merangkap Fungsi SRM

Untuk bisnis skala kecil sampai menengah (UKM) yang belum butuh sistem SRM enterprise, berikut beberapa hal yang perlu Anda cek sebelum memilih software CRM untuk merangkap fungsi supplier relationship management:

  1. Bisa menyimpan data kontak, kontrak, dan riwayat harga pemasok dalam satu profil terpusat.
  2. Terintegrasi dengan WhatsApp Business API agar chat dengan supplier tidak hilang saat pergantian staf.
  3. Punya fitur pengingat otomatis untuk jatuh tempo kontrak dan pembayaran.
  4. Mendukung dashboard atau laporan kinerja pemasok yang bisa Anda sesuaikan.
  5. Punya kemampuan otomatisasi alur kerja sederhana, misalnya notifikasi saat stok dari pemasok tertentu sering telat.
Aplikasi CRM

Baca Juga: CRM SaaS: Penggunaan, Contoh, dan Strateginya untuk Sales

Kesimpulan

Supplier relationship management (SRM) dan CRM memang lahir dari kebutuhan yang berbeda arah, satu mengelola sisi permintaan dan pemenuhan supply chain dan satu lagi mengelola hubungan dengan pelanggan.

Keduanya punya prinsip sama yaitu hubungan bisnis, baik dengan pelanggan maupun supplier.

Akan jauh lebih menguntungkan kalau pengelolaan keduanya Anda lakukan secara sistematis, terutama jika kebutuhan dan skalabilitas bisnis sudah meningkat.

Untuk bisnis UKM yang belum siap berinvestasi pada sistem SRM khusus, Anda cukup memanfaatkan software CRM dengan konfigurasi yang tepat.

Salah satu penyedia software CRM yang bisa Anda coba adalah CRM.id. Aplikasi ini selalu menekankan value untuk mempermudah dalam pengelolaan pelanggan dan workflow, serta tidak perlu komitmen biaya langganan bulanan.

Hanya dengan harga Rp 40/pesan, Anda bisa mendapatkan benefit fitur-fiturnya seperti manajemen kontak, transfer agen, dan pemantauan jumlah baris pesan secara unlimited.

Segera lakukan demo aplikasi atau Anda bisa mendaftar pada tautan berikut.

Ainur Rohman

Tinggalkan Komentar

eighteen − 5 =