Perubahan perilaku pembeli juga ikut mempengaruhi cara pelaku usaha menjalankan strategi penjualan.
Banyak pemilik usaha berpikir bahwa penjualan yang menurun hanya karena produk mereka yang kurang laku atau harga “kurang miring”.
Padahal akar masalah justru karena tidak tersistem dalam pengelolaan penjualannya.
Tidak ada follow up leads yang masuk, data pelanggan tersimpan di banyak nomor WhatsApp admin yang berbeda, dan tim sales bekerja tanpa menggunakan data.
Untuk itulah di artikel CRM.id ini kami akan merangkum 11 strategi penjualan yang bisa langsung Anda terapkan, supaya bisnis Anda yang baru naik kelas tanpa harus menambah budget promosi.
Yang menarik, sebelas strategi ini kami susun berdasarkan pola yang berulang saat menangani keluhan pelaku usaha soal penjualan yang mentok gitu-gitu saja.
Berikut ini strategi yang bisa Anda terapkan:
1. Kenali dan Segmentasikan Pelanggan Berdasarkan Data (Hindari Asumsi)

Langkah pertama dalam menyusun strategi penjualan yang tepat adalah berhenti menebak-nebak perihal customer tanpa melihat data.
Beberapa business owner masih mengandalkan intuisi terkait siapa yang membeli produk mereka.
Padahal data transaksi sebenarnya sudah tersedia di kasir, marketplace, atau chat WhatsApp.
Sebaiknya coba kelompokkan customer berdasarkan frekuensi belanja, nilai transaksi rata-rata, dan produk favorit mereka.
Segmentasi ini membuat Anda bisa mengirim penawaran yang tepat, bukan promosi yang Anda pukul rata tanpa adanya data pendukung, justru malah terasa mengganggu.
Penelitian pada 120 pelaku UMKM di sektor kuliner, fashion, dan jasa kreatif yang dipublikasikan di MAMEN Jurnal Manajemen tahun 2025 menemukan kalau penerapan CRM berpengaruh positif terhadap kinerja UMKM.
Artinya, memahami pelanggan secara terstruktur lewat data terbukti berhubungan dengan performa bisnis di lapangan.
2. Fast Response ke Calon Pembeli/Leads
Fast response ke calon pembeli adalah salah satu strategi penjualan produk yang sangat membantu.
Kecepatan merespon chat atau pertanyaan calon pembeli menentukan besar peluang closing.
Voiso mengutip laporan Lead Response berjudul Sales Follow-Up Statistics 2026, mengenai metrik lead response time menunjukkan bahwa peluang konversi leads naik 9x lipat apabila meresponnya dalam 5 menit pertama sejak mereka bertanya.
Setelah lebih dari sejam, tingkat keterbukaan pesan follow up anjlok drastis, dari sekitar 40% menjadi hanya 5%.
Dalam praktik di lapangan, pemilik bisnis yang menugaskan admin khusus untuk memantau chat masuk di jam sibuk atau memakai chatbot untuk membuat kecepatan respon.
Biasanya punya tingkat konversi jauh lebih tinggi daripada yang membiarkan pesan menumpuk sampai malam.
Baca Juga: 5 Tips Meningkatkan Customer Service Response Time
3. Bangun Sistem Follow Up Secara Terjadwal

Follow up pelanggan sering menjadi salah satu inti dari strategi penjualan yang berhasil.
Data dari LeadResponse menunjukkan sekitar 80% transaksi membutuhkan minimal 5xi sentuhan lanjutan sebelum akhirnya deal, tapi sekitar 92% tenaga sales menyerah sebelum mencapai titik itu.
Artinya, mayoritas peluang penjualan hilang bukan karena produknya yang ditolak pembeli, lebih karena follow up-nya tidak terkelola dengan baik.
Solusinya bukan berarti harus melakukan follow up pelanggan setiap hari, karena riset yang sama menunjukkan follow up yang terlalu sering justru menurunkan tingkat respon pembeli.
Jarak 2-3 hari antar follow up terbukti menghasilkan tingkat balasan yang lebih baik daripada follow up harian atau follow up yang terlalu jarang.
Buat jadwal follow up yang konsisten, bisa dengan reminder manual di spreadsheet untuk usaha kecil atau otomatisasi melalui software jika skala bisnis sudah lebih besar.
4. Manfaatkan Software CRM untuk Menyatukan Data Pelanggan dan Riwayat Transaksi
Ketika jumlah pelanggan sudah puluhan bahkan ratusan, tidak cukup tanpa pakai tools yang mempermudah input dan pengelolaan data sampai catatan transaksi.
Untuk itulah membutuhkan aplikasi CRM sebagai strategi penjualan naik kelas.
CRM mengumpulkan history chat, riwayat pembelian, dan preferensi pelanggan dalam satu tempat.
Sehingga siapapun di tim bisa melanjutkan chat karena sudah ada di riwayat dan bisa Anda arsipkan.
Kumpulan data industri dari Flowlu menyebutkan bahwa 94% bisnis melaporkan kenaikan produktivitas tim sales setelah menerapkan software CRM.
Secara rata-rata pendapatan penjualan naik 29% setelah implementasinya berjalan.
Yang menarik, manfaat ini tidak eksklusif untuk perusahaan besar.
Studi pada UMKM Mie Pangsit di Kota Batam yang dipublikasikan di Jurnal Ilmiah Edutic menemukan bahwa penerapan CRM itu terbilang simple.
Bahkan tanpa software mahal, sudah mampu memperbaiki keakuratan informasi produk dan interaksi dengan pelanggan.

Baca Juga: 10 Keuntungan Menggunakan Software CRM bagi Bisnis
5. Terapkan Upselling dan Cross-Selling yang Relevan dengan Kebutuhan Customer
Upselling dan cross-selling adalah dua strategi penjualan yang sering banyak orang salah paham, yaitu memaksa pelanggan membeli lebih banyak.
Kedua teknik ini sebenarnya menawarkan solusi tambahan yang benar-benar pelanggan butuhkan pada momen yang tepat.
Contoh sederhana adalah kasir yang menawarkan ukuran lebih besar dengan tambahan harga wajar.
Atau toko kecantikan yang menjual paket bundling perawatan yang saling melengkapi.
Kuncinya ada pada relevansi dan memenuhi kebutuhan atau masalah customer.
Tawaran yang tidak nyambung dengan kebutuhan pelanggan justru menurunkan kepercayaan mereka dan penawaran Anda justru dianggap mengganggu.
Coba latih tim untuk mengenali sinyal kebutuhan pelanggan dulu, baru menawarkan produk pelengkap, bukan sebaliknya.
6. Optimalkan Strategi Penjualan Online lewat Pendekatan Multi Channel
Strategi penjualan online tidak lagi cukup hanya mengandalkan satu channel saja.
Telkom Indonesia mengutip Data Bank Indonesia mencatat sampai semester pertama 2025 sudah ada 39,3 juta merchant QRIS di Indonesia, mayoritas adalah pelaku UMKM.
Hal ini menandakan kalau pelanggan kini terbiasa bertransaksi lintas channel, dari marketplace, media sosial, email, sampai chat komersial seperti WhatsApp Business.
Untuk bisnis yang naik kelas biasanya tidak memilih salah satu channel saja, tapi menghubungkan semuanya.
Misalnya, calon customer menemukan produk lewat konten media sosial, setelah itu bertanya detailnya lewat WhatsApp, lalu menyelesaikan pembayaran lewat QRIS atau marketplace.
Tantangannya adalah memastikan data dari ketiga channel atau saluran ini harus seamless dan memenuhi flow customer journey.
Sehingga tim sales tetap punya gambaran utuh tentang siapa pelanggan yang sedang berinteraksi.
Baca Juga: Strategi Pemasaran Online: Manfaat dan Cara Menyusunnya
7. Rancang Program Retensi untuk Pelanggan Lama, Jangan Hanya Akusisi Pelanggan Baru

Banyak pelaku usaha menghabiskan anggaran promosi hanya untuk menarik pembeli baru, padahal pelanggan lama jauh lebih murah untuk Anda pertahankan.
Data dari Flowlu menyebutkan sekitar 72% pendapatan perusahaan sebenarnya berasal dari pelanggan yang sudah pernah membeli sebelumnya.
Sejalan dengan prinsip lama dalam ilmu marketing, mempertahankan pelanggan 5-25 kali jauh lebih hemat biaya daripada akuisisi pelanggan baru dari nol.
Strategi penjualan UMKM yang efektif biasanya menyisihkan sebagian perhatian untuk program loyalitas sederhana.
Seperti diskon khusus pelanggan lama, penawaran ulang tahun, atau pesan sapaan personal.
Hal-hal kecil ini sering kali lebih efektif membangun loyalitas daripada diskon besar-besaran yang hanya menarik pembeli sekali datang.
8. Melatih Tim Sales dengan Studi Kasus Langsung
Pelatihan sales yang hanya berisi teori motivasi jarang mengubah perilaku di lapangan.
Yang lebih tepat justru latihan menggunakan skenario nyata.
Misalnya bagaimana menjawab komplain harga, bagaimana menutup obrolan dengan ajakan bertindak yang halus atau bagaimana menangani pelanggan yang membandingkan dengan kompetitor.
Coba rekam interaksi penjualan yang berhasil closing, lalu jadikan itu materi latihan studi kasus untuk anggota tim baru atau yang masih junior.
Laporan HubSpot State of Sales 2025 yang mensurvei lebih dari 1000 profesional penjualan global menemukan 82% dari mereka menganggap membangun hubungan yang kuat dengan calon pembeli sebagai bagian paling penting.
Sekaligus paling memuaskan dari proses penjualan, jauh melampaui teknik closingan transaksi itu sendiri.
Baca Juga: Sales Representative: Definisi, Tugas, dan Gaji
9. Gunakan Social Proof untuk Menurunkan Keraguan Pembeli

Testimoni, ulasan, dan studi kasus adalah bentuk teknik closing penjualan yang bekerja secara pasif tapi lebih konsisten.
Calon pembeli yang ragu sering kali bukan karena tidak tertarik pada produk, lebih karena belum yakin apakah produk itu benar-benar bekerja sesuai janji yang ditawarkan.
Dengan menampilkan review, foto pelanggan yang memakai produk, atau jumlah pelanggan yang sudah Anda layani, membantu meredam keraguan itu tanpa harus menurunkan harga.
Pastikan social proof ini mudah ada sejak di touchpoint pertama, bukan yang tersembunyi pada halaman yang jarang audience kunjungi.
Di marketplace atau website, review yang muncul dekat tombol beli terbukti lebih mempengaruhi keputusan daripada review yang terpisah jauh dari produk.
Sebagai tambahan, minta izin pelanggan untuk menampilkan nama dan foto asli mereka.
Testimoni yang otentik dan “raw” jauh lebih meyakinkan daripada testimoni yang terkesan dibuat-buat.
10. Rancang Promosi Bertarget, Bukan Cuma Diskon yang Sembarangan
Diskon besar memang menarik perhatian, tapi jika tanpa perhitungan justru mengurangi margin dan membuat pelanggan terbiasa menunggu diskon sebelum membeli.
Strategi penjualan yang lebih sehat adalah merancang promosi bertarget.
Misalnya diskon khusus untuk produk yang stoknya menumpuk, terus juga bundling menaikkan nilai transaksi rata-rata.
Bisa juga dengan menggunakan flash sale terbatas waktu yang menciptakan urgensi tanpa merusak persepsi harga jangka panjang.
Laporan HubSpot 2025 juga mencatat pergeseran menarik, promosi sekarang tidak cuma berbentuk potongan harga.
Aktivitas seperti challenges di media sosial, kuis berhadiah, dan giveaway kecil-kecilan dapat merebut perhatian calon pembeli sekaligus menjaga margin tetap sehat.
11. Ukur, Evaluasi, dan Iterasi Strategi Penjualan Secara Berkelanjutan
Strategi penjualan yang bagus di atas kertas bisa saja tidak cocok dengan karakter pasar Anda.
Karena itu, langkah terakhir yang paling sering pemilik UKM adalah evaluasi rutin.
Anda perlu memantau metrik dasar seperti tingkat konversi dari chat menjadi transaksi, rata-rata waktu closing, dan produk mana yang paling mendapat pembelian berulang.
Data dari HubSpot menunjukkan rata-rata tingkat closing di berbagai industri sebesar 29%.
Persentase ini bisa Anda jadikan benchmark sebelum menetapkan target internal tim penjualan.
Proses peninjauan jangan menunggu setahunan, lebih baik lakukan per minggu, dua minggu atau setiap bulan, lalu sesuaikan pendekatan yang kurang efektif.
UMKM yang naik kelas biasanya yang paling disiplin mengukur metrik-metrik strateginya yang benar-benar berhasil.
Anda bisa membuat catatan yang berisi pengujian hipotesis, hasil yang diperoleh, dan pengambilan keputusan seperti apa setelahnya.
Evaluasi tidak berhenti sebagai obrolan santai di rapat, langkah selanjutnya adalah untuk bahan pembelajaran saat menyusun strategi penjualan periode berikutnya.

Baca Juga: Strategi Penjualan B2B Tanpa CRM, Apa yang Akan Terjadi?
Kesimpulan
Demikian penjelasan dari CRM.id terkait strategi penjualan yang baru naik kelas.
11 strategi penjualan tersebut menunjukkan pergeseran dari cara berjualan yang mengandalkan insting jadi cara berjualan yang mengandalkan data dan sistem lebih rapi.
Misalnya seperti kecepatan merespon pesan calon pembeli, kedisiplinan follow up, pemanfaatan software CRM, sampai evaluasi secara berkelanjutan.
Tidak semua strategi ini perlu Anda terapkan sekaligus. Anda bisa memulai dari satu atau dua strategi yang paling sesuai dengan tantangan bisnis Anda saat ini.
Misalnya Anda mulai menggunakan platform CRM. Jika Anda terbiasa menggunakan WhatsApp sebagai basis data calon pelanggan atau pelanggan lama dan ingin memperlebar manajemen komunikasi.
Di CRM.id, bisa menghubungkan WhatsApp pada aplikasi dengan jumlah agen yang tak terbatas, jumlah nomor, dan antar agen bisa membuka nomor di device yang berbeda, seharga Rp 40/pesan tanpa biaya langganan bulanan.
Anda bisa mencoba mengisi form daftar aplikasi CRM.id berikut ini untuk konsultasi lebih lanjut dengan konsultan expert kami.
- 11 Strategi Penjualan untuk Bisnis yang Baru Naik Kelas - 22 Juli 2026
- Supplier Relationship Management & Hubungannya dengan CRM - 22 Juli 2026
- Cari Tahu Apa Itu WhatsApp Call & Fungsinya untuk Bisnis - 17 Juli 2026