Download Panduan Pipeline Marketing: Contoh dan Formatnya

Panduan Pipeline Marketing - Contoh dan Format Template

Pipeline marketing atau marketing pipeline adalah untuk menjawab permasalahan yang masih belum terpetakan di traditional marketing.

Banyak marketer yang terjebak pada vanity metrics seperti jumlah likes, followers, atau traffic website.

Padahal, pada akhirnya, bisnis bertahan berkat pendapatan (revenue).

Biasanya marketing yang tradisional/konvensional sering gagal menghubungkan antara promosi dengan hasil closingan.

Dampaknya pada kehilangan prospek (leads) hanya karena mereka tidak memiliki pipeline yang jelas dan terstruktur.

Prospek masuk dari Instagram ads, bertanya via WhatsApp, lalu menghilang begitu saja.

Untuk itu, kita akan membahasnya di artikel CRM.id ini akan membahas detail pipeline marketing, melihat contoh penerapan bank dan industri lain.

Memahami format pipeline marketing yang benar, serta memberikan template pipeline marketing yang bisa langsung Anda pakai.

Apa Itu Pipeline Marketing?

crm banner 2

Pipeline marketing adalah strategi pemasaran yang berfokus pada seluruh proses perjalanan pelanggan (customer journey).

Mulai dari kontak pertama (awareness) sampai mereka benar-benar menjadi pelanggan (menghasilkan revenue), daripada hanya berfokus pada menghasilkan prospek (lead generation) semata.

Arti pipeline marketing adalah menggeser metrik kesuksesan tim marketing.

Jika dulu tim marketing mencapai keberhasilan karena mendapat 1.000 kontak email baru.

Keberhasilan terjadi jika dari 1.000 kontak tersebut, terbukti ada persentase yang menghasilkan Return on Investment (ROI).

Perbedaan Pipeline Marketing vs Sales Pipeline

Perbedaan keduanya terdapat pada fokusnya, yakni:

Pipeline Marketing

Mengurus bagaimana audiens berubah menjadi Marketing Qualified Lead (MQL) sampai siap dilemparkan ke tim sales (Sales Qualified Lead / SQL).

Sales Pipeline

Mengurus bagaimana SQL tersebut dinegosiasi, diberikan penawaran (pitching/proposal), hingga akhirnya terjadi deal (terjadi transaksi).

Baca Juga: Sales Pipeline: Pengertian, Tahapan, dan Cara Membuatnya

Kenapa Pipeline Marketing Penting di Waktu Sekarang?

Kenapa Pipeline Marketing Penting di Waktu Sekarang

Menurut Forrester Research, yang dikutip pada tulisan Business News Daily, “7 Lead-Nurturing Strategies”:

Perusahaan yang memiliki sistem nurturing terstruktur (lead nurturing) bisa menghasilkan 50% lebih banyak prospek siap jual dengan biaya 33% lebih rendah.

Hal itu bisa jadi kesempatan untuk Anda memanfaatkan leads nurturing sebaik-baiknya, dan berbagai channelnya seperti email dan WhatsApp.

Apalagi Di Indonesia, perilaku konsumen sangat berpusat pada aplikasi pesan singkat (chat-centric).

Orang lebih suka bertanya “Min, apa udah ready?” di WhatsApp daripada mengisi form di website.

Tanpa pipeline marketing yang jelas dan terhubung dengan CRM, ribuan chat ini hanya akan menjadi pesan yang bertumpuk dan membuat tim lambat saat merespon. Ujung-ujungnya pada matinya leads (lead leakage).

Baca Juga: Strategi Conversation Marketing yang Tepat untuk Bisnis

Seperti Apa Format Pipeline Marketing yang Tepat?

Untuk membangun sistem yang kuat, Anda harus memahami format standarnya.

Secara umum, format ini dibagi menjadi tiga fase (konsepnya tetap mengacu pada customer journey):

1. Fase Akuisisi (Top of Funnel / TOFU)

Sumber trafficnya dari SEO, artikel blog, Meta Ads, TikTok Ads, dan Google Search.

Lead capture bisa menggunakan Click to WhatsApp Ads, form lead generation, atau landing page.

Status lead yaitu raw lead atau subscriber.

2. Fase Nurturing (Middle of Funnel / MOFU)

Lead yang masuk tidak bisa langsung disajikan dengan promosi yang sangat agresif.

Mereka harus mendapat edukasi, terlebih dahulu seperti berikut:

  • Mengirimkan lead magnet (e-book dan webinar), memberikan studi kasus, atau edukasi via WhatsApp Broadcast.
  • Status Lead: Marketing Qualified Lead (MQL) artinya prospek ini sudah menunjukkan ketertarikan (misalnya: mengunduh brosur atau membalas chat WA).

3. Fase Transisi (Bottom of Funnel / BOFU)

  • Aktivitasnya: Menawarkan sesi konsultasi gratis (free consultation), free trial, demo produk, atau diskon khusus.
  • Status lead: Sales Qualified Lead (SQL), lead ini sudah siap ditelepon atau di-follow up sales.

Baca Juga: Alur dan Contoh Penerapan Customer Touchpoint

Contoh Pipeline Marketing Berdasarkan Jenis Industri

Contoh Pipeline Marketing Berdasarkan Jenis Industri

Setiap industri memiliki customer journey yang berbeda-beda, itu juga yang membuat pipeline marketing nya juga sangat bervariasi.

Di industri bank atau finance pasti punya perbedaan dengan yang ada di industri retail/FMCG.

Berikut ini contoh penerapan di berbagai sektor yang bisa Anda jadikan rujukan.

1. Contoh Pipeline Marketing Bank (Sektor Finansial)

Produk perbankan (seperti KPR, Kartu Kredit, atau debit, dan lainnya) membutuhkan tingkat kepercayaan (trust) yang tinggi. Sehingga proses pengambilan keputusannya panjang.

>> Awareness: Bank menayangkan iklan di Instagram atau bisa menggunakan word of mouth tentang Kalkulator Simulasi KPR Milenial”.

>> Lead Capture: Pengguna mengklik iklan, masuk ke landing page, dan mengisi nama serta nomor WhatsApp untuk mendapatkan hasil simulasi.

>> Nurturing (MQL): Lewat sistem WhatsApp CRM bank, nasabah menerima pesan otomatis berisi hasil kalkulasi KPR.

Tiga hari kemudian, sistem mengirimkan pesan yang berisi link ke artikel atau video dengan judul, misalnya: 5 Dokumen yang Wajib Disiapkan untuk KPR Pertama.

>> Closing/Deal (SQL): Misalnya nasabah membalas WA dengan bertanya, “Bunga fix-nya berapa tahun?”

Tim marketing menandai (tag) kontak ini sebagai SQL dan otomatis mendistribusikan ke tim sales (atau telemarketing) cabang terdekat untuk dihubungi.

2. Contoh Pipeline Marketing Properti (Real Estate)

Untuk industri properti atau real estate, pipelinenya seperti ini:

  • Awareness: Iklan Facebook Ads menampilkan virtual tour 360 Perumahan, iklan di Google atau Billboard, artikel blog, media sosial
  • Lead Capture: CTA iklan atau tulisan tadi diarahkan ke Click-to-WhatsApp, dan lead bisa langsung mengirim pesan.
  • Nurturing (MQL): Admin CRM membalas otomatis mengirimkan e-brosur pricelist, dan sejenisnya. Jika lead mengunduh dokumen tersebut, statusnya naik menjadi warm lead.
  • Closing/Deal (SQL): Marketing mengundang lead untuk datang ke acara open house di akhir pekan. Jika lead setuju, ia dioper ke agen di lapangan.

3. Contoh Pipeline Marketing B2B SaaS (Software as a Service)

Untuk contoh kasus ke-3 di penerapan pipeline marketing di industri B2B SaaS. Prosesnya akan seperti ini:

  • Awareness: Trafik organik dari artikel blog SEO (seperti yang sedang Anda baca ini).
  • Lead Capture: Penawaran Download Template Pipeline Marketing Gratis dengan syarat memasukkan email atau nomor WhatsApp.
  • Nurturing (MQL): Pengiriman email campaign selama 7 hari berisi tips marketing, broadcast pesan WA, atau mengirim pesan follow up untuk pertama kalinya. 
  • Closing/Deal (SQL): Tawaran free trial 14 hari, jadwalkan demo, atau daftar aplikasi. Jika user mendaftar trial, mereka dianggap sebagai SQL.

Baca Juga: Marketing Qualified Leads: Contoh, KPI, dan Strategi di B2B

Cara Memaksimalkan Pipeline Marketing dengan Aplikasi CRM WhatsApp

Aplikasi WhatsApp CRM Yogyakarta (CRM.id)

Di Indonesia, email marketing seringkali memiliki open rate 20%.

Sementara itu, WhatsApp memiliki open rate hingga 98%, dalam tulisannya berjudul 4 Ways Marketing Leaders Should Be Using WhatsApp to Help Achieve Business Goals.

Itu artinya, memasukkan variabel penggunaan WhatsApp ke pipeline marketing sangat menguntungkan.

Dengan WhatsApp CRM (seperti menggunakan CRM.id, WATI, atau platform WA API lainnya) akan memberikan Anda kemudahan berikut:

1. Lead Scoring Otomatis

Software CRM memberi skor pada lead berdasarkan interaksi WA mereka.

Jika mereka mengklik link di WA Broadcast Anda, skor akan bertambah. Apabila mencapai skor tertentu, otomatis akan terkirim ke tim sales.

2. Segmentasi (Labelling dan Tagging)

Anda bisa memberikan tag (label) pada prospek/pelanggan atau grup.

Misalnya ada tag [MQL-Kartu Kredit], [Cold-Lead], [VIP-KPR]. Pipeline marketing Anda menjadi jauh rapi dengan adanya tag dan label ini.

3. Tidak Kelupaan untuk Follow Up

Dengan adanya software CRM bisa mengurangi human error.

Anda bisa mengatur sequences dengan mudah, misalnya jika hari ke-1 lead tidak membalas, sistem akan otomatis mengirim follow up ramah di hari ke-3.

Baca Juga: Strategi WhatsApp Marketing yang Jitu Meningkatkan Leads

Download Template Pipeline Marketing Siap Pakai (Format Excel)

Untuk Anda yang sedang berada di bisnis berskala kecil-menengah, bisa menggunakan template siap pakai dari Google Sheets atau Excel.

Anda bisa mendownloadnya melalui dua cara berikut ini.

Komponen dalam Template Pipeline Marketing:

  1. Tanggal masuk lead
  2. Nama prospek dan No. WhatsApp
  3. Lead source (sumber), dari sumber channel leads datang (Meta Ads, SEO, TikTok)
  4. Campaign name, yaitu nama promo yang membuat mereka tertarik
  5. Marketing stage (status): Raw lead, MQL, atau SQL
  6. Next action date: Kapan tanggal follow up selanjutnya
  7. PIC / penanggung jawab, yaitu siapa orang atau tim yang bertanggung jawab

Baca Juga: 10 Contoh Template Email Marketing dan Tips Menulisnya

Kesalahan yang Harus Anda Hindari saat Mengelola Pipeline Marketing

Kesalahan yang Harus Anda Hindari saat Mengelola Pipeline Marketing

Agar tidak mengulangi kesalahan yang sering pemula lakukan, CRM.id akan memaparkan 3 kesalahan yang harus Anda hindari:

1. Tidak Menyelaraskan Pipeline Marketing dengan Sales (Smarketing)

Marketing merasa lead-nya bagus, tapi Sales menganggap kualitasnya sampah.

Untuk itu harus ada kesepakatan terkait apa kriteria sebuah lead disebut MQL dan SQL.

2. Menelantarkan Lead (Lambat Merespons / Slow Response)

Menurut studi, probabilitas mengubah lead menjadi MQL turun drastis jika Anda merespons lebih dari 5 menit.

Untuk itu hal ini harus benar-benar Anda perhatikan. Bisa dengan menggunakan auto reply dari WhatsApp CRM agar ada proses otomasi, untuk mengurangi beban tugas.

3. Tidak Melacak Atribusi Cost Per Lead (CPL)

Pipeline marketing yang benar harus bisa menjawab pertanyaan seperti:

Dari Rp 10.000.000 (sepuluh juta) budget Ads bulan ini, berapa banyak yang akan benar-benar menjadi SQL?

Baca Juga: Cara Menghitung Cost Per Lead dan Menurunkan Biayanya

Kesimpulan

Dari pembahasan CRM.id tersebut, kita jadi paham arti pipeline marketing, yaitu langkah pertama perusahaan untuk memaksimalkan proses dari leads menjadi konversi.

Penerapannya pun berbeda-beda di setiap industri.

Di bank, bisnis properti atau retail penerapannya memang bervariasi *bergantung pada customer, cara kerja, channel yang mereka gunakan), tapi pipeline nya tetap sama.

Yaitu awareness, lead capture, menjaga keterkaitan atau nurturing (MQL), dan sampai lempar ke tim sales buat closing / deal (SQL).

Supaya lebih mudah dan siap pakai, terdapat template pipeline marketing yang sudah CRM.id sediakan.

Tapi jika bisnis Anda suka mulai naik kelas, dalam artian sudah banyak customer, leads baru juga menumpuk, sampai akhirnya tim merasa overwhelmed, maka Anda bisa mempertimbangkan untuk beralih menggunakan Aplikasi CRM.

Penggunaan aplikasi CRM bervariasi, ada yang memang fokus ke WhatsApp (karena baseline leads/customer dari WA).

CRM.id sebagai penyedia Aplikasi CRM WhatsApp menyediakan fitur-fitur untuk memudahkan pipeline marketing, seperti manajemen kontak, dashboard data, label/tagging, sampai flow untuk bisa transfer antar agen.

Semua serba unlimited (users, agent, dan pesan). Apabila Anda tertarik mencoba, silahkan isi form demo aplikasi CRM berikut.

Ainur Rohman

Tinggalkan Komentar

five × 4 =